Dorong Kampus Mendirikan BLK Untuk Menciptakan Wirausaha

SLEMAN, KRJOGJA.com – Era globalisasi menjadikan dunia industri atau manufaktur dimonopoli oleh negara-negara yang menguasai teknologi informasi dan mesin. Negara industri seperti Cina, Jepang, Korea dan Taiwan, mepunyai sistem ekonomi yang terkontrol dan berkembang sehingga mendorong tumbuhnya industri baru dan menciptakan lapangan kerja.

Ketua Komite Ekonomi dan Industri Nasional (KEIN), Soetrisno Bachir, menyatakan bahwa Indonesia harus menambah jumlah pengusaha. Langkah tersebut untuk mendorong pertumbuhan ekonomi ke level yang lebih besar. Setidaknya jumlah wirausahawan di Indonesia bisa mencapai 6 persen dari total penduduk.

Menurut Soetrisno Bachir di sini peran pemerintah adalah memfasilitasi, khususnya melalui Kementerian Ketenagakerjaan (Kemnaker) dengan memperbanyak Balai Latihan Kerja (BLK). Tapi itu (BLK) juga diproyeksikan hanya jadi pegawai, pekerja di perusahaan. 

“Makanya ke depan akan dibuatkan skema supaya masyarakat lebih terampil, misalnya pendidikan di bidang kuliner, tidak hanya jadi koki, tapi juga bisa membuka usaha kuliner sendiri," ujar Soetrisno saat memberi materi di hadapan mahasiswa UIN Sunan Kalijaga pada kuliah umumbertajuk "Menumbuhkan Semangat Berwirausaha Untuk Menghadapi Revolusi Industri 4.0” Kamis (29/8) kemarin.

Soetrisno menambahkan seperti di kampus ini misalkan jika didirikan BLK bakal muncul wirausaha baru sesuai bidang keilmuannya. Karena kampus tempatnya orang belajar dan dididik sehingga mudah jika kewirausahaan didorong dari sini. “Sudah ada kurikulum kewirausahaan dan kemitraan ini akan dibangun pemerintah dengan Perguruan Tinggi”. kata Soetrisno Bachir.

Soetrino menjelaskan bahwa negara kita mengalami kemunduran di bidang industri. Dulu jaman orde baru kondisi politik dan ekonomi dapat terkontrol, sekarang bersifat liberal dan tak terkontrol. Dari situ muncul problem maraknya barang industri masuk ke Indonesia, mengakibatkan negara defisit dan lesunya kekuatan ekspor karena kalah bersaing dengan produk jadi dari luar. “Masyarakat kita sendiri lebih memilih barang industri yang murah dari luar negeri.”ucap Soetrisno Bachir.

“Tentu mindset kita harus dirubah lantaran membeli barang murah luar negeri apalagi generasi muda, yang akan meneruskan perjuangan bangsa. Indonesia merupakan pasar besar barang impor, karena murah sampai kita juga tidak mau menawar. Sampai berakibat industri lokal bangkrut seperti industri cangkul, peniti dan kacamata. Kita masih hidup karena masih ada kekayaan alam yang mungkin juga jumlahnya terbatas.”kata Soetrisno. (*)

BERITA REKOMENDASI