Dosen ITNY Raih Bronze Award IAC di Malaysia

Editor: Agus Sigit

SLEMAN, KRJOGJA.com – Tatkala teknologi telah memihak kepada otomasi mesin, penghargaan kepada aspek-aspek kemanusiaan itu menjadi berkurang. Akibatnya, teknologi itu menghilangkan esensi-esensi humanisme.

“Lebih banyak didorong untuk kepentingan kapitalisme dan materialisme yang semakin menjauhkan fungsi teknologi sebagaimana mestinya,” kata Dr Lukis Alam, dosen Perencanaan Wilayah dan Kota (PWK) Institut Teknologi Nasional Yogyakarta (ITNY), Sabtu (11/09/2021).

Hal tersebut disampaikan Dr Lukis Alam dalam International Article Competition (IAC) diselenggarakan oleh International Waqaf Ilmu Nusantara Library (i-WIN Library di Universiti Sains Malaysia. Hasil Lomba ini diumumkan secara virtual melalui link https://wakafilmunusantara.com/index.php/awarding.

Diakui Dr Lukis Alam, dalam penyusunan artikel tersebut, untuk mendapatkan logika yang baik dan argumentatif, Dr Lukis Alam memanfaatkan dialektika teori-teori sosial klasik dan kontemporer sehingga kontekstualisasi permasalahan bisa dibaca dengan gamblang. Dalam kompetisi ini diikuti oleh 56 perguruan tinggi dari dalam negeri dan luar negeri.
Terdapat 210 paper dari beragam kategori yang ditawarkan. Pada kesempatan ini Lukis Alam mengikuti kategori kajian budaya dan teknologi. “Dengan mengambil judul Ketimpangan Industrialisasi di Era Global dan Dehumanisasi Teknologi, saya berhasil meraih Bronze Award (Pena Gansa/Perunggu),” ucapnya.

Lukis Alam mengatakan, ide awal tulisan tersebut didasarkan atas pembacaannya terhadap revolusi industri di Eropa pada abad 16. “Sejatinya, situasi tersebut menguntungkan negara-negara lain di sekitarnya untuk terus melakukan inovasi teknologi guna mensejahterakan seluruh makhluk Tuhan,” jelas Lukis Alam.

Sedangkan Rektor ITNY, Dr Ircham MT mengaku bangga dengan prestasi dosen PWK di kancah Internasional tersebut. “Saya berharap kompetisi ini dapat memacu produktivitas para dosen ITNY dalam mengembangkan literasi akademik dan diseminasi pengetahuan,” ujarnya. Ditegaskan, dosen ITNY harus berani berkompetisi tidak hanya tingkat regional, melainkan juga di tingkat global. (Jay)

 

 

 

 

BERITA REKOMENDASI