Dosen UPN “Veteran” Yogyakarta Beri Pelatihan Pengolahan Limbah Paralon di Desa Caturtunggal

Editor: Ivan Aditya

SLEMAN, KRJOGJA.com – Dosen Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” Yogyakarta (UPNVY) yang tergabung dalam Tim Pengabdian Bagi Masyarakat (PbM) Internal bekerja sama dengan Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) Jendela Kriya memberikan pelatihan dan pendampingan pengelolaan limbah sampah organik, yakni limbah paralon yang dimanfaatkan menjadi suatu produk hiasan lampu, di Mundu, Padukuhan Tempel, Desa Caturtunggal, Depok, Sleman, Yogyakarta.

Kegiatan yang didukung oleh Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyaralat (LPPM) UPNVY ini diketuai oleh Dr. Nurkhamim, ST., MT., dan anggota Sri Harjanti, SE., M.Si. Dengan dibantu mahasiswa UPNVY Muhamad Khasbulloh, dan Sufi Rizki Lillah.

Kegiatan pendampingan berlangsung Mei hingga Juli 2021, di kantor Jendela Kriya Jalan Anggur No.40, Caturtunggal, Depok, Sleman, Yogyakarta. Turut hadir Tris Atmono Priambodo selaku owner UMKM Jendela Kriya dan karyawan Jendela Kriya sebagai peserta.

Nurkhamim menuturkan, pelatihan ini bertujuan untuk mendorong pemanfaatan dan peningkatan nilai ekonomis limbah Paralon. Limbah Paralon sendiri berasal dari alat-alat pendukung industri perumahan seperti konstruksi. Selama ini paralon yang telah dianggap rusak, dibuang dan tidak dimanfaatkan secara ekonomis oleh warga.

“Kurangnya pemahaman serta tidak adanya fasilitas yang mendukung pengelolaan limbah paralon menjadikan jumlah limbah ini semakin banyak dan terkadang hanya diambil oleh pemulung dengan kapasitas sedikit,” ujarnya.

Hingga saat ini, berdasarkan peta keberadaan bank sampah, belum ada bank sampah plastik seperti Paralon di wilayah Kecamatan Depok, terutama di Desa Caturtunggal. Sehingga keberadaan bank sampah paralon dapat menjadi salah satu percontohan pengelolaan sampah plastik.

“Keberadaan bank sampah paralon menjadi krusial untuk didirikan karena hiasan lampu dapat mendukung tempat wisata di wilayah Yogyakarta, khususnya kabupaten Sleman yang dikenal sebagai daerah wisata dan seni budaya,” ungkapnya.

Diperlukan upaya serta kerjasama berbagai pihak untuk meliterasi sekaligus mendirikan fasilitas pengelolaan limbah sampah plastik paralon. Agar limbah sampah tersebut dapat berkurang jumlahnya, dan sekaligus limbah yang ada bisa memberikan manfaat ekonomis bagi warga.

“Pengelolaan sampah secara efektif mampu memberikan dampak positif bagi bagi warga maupun bagi wisatawan yang berkunjung di wilayah Mundu Padukuhan Tempel,” imbuhnya.

Pengelolaan sampah yang efektif juga mampu menjaga keberlanjutan pembangunan perumahan, seni budaya, dan pendidikan dengan lebih baik. “Dengan keberadaan bank sampah paralon desa Caturtunggal, diharapkan mampu memberikan keuntungan baik secara ekonomis maupun ekologis bagi pihak-pihak yang terkait khususnya masyarakat Desa,” terangnya.

Sementara itu, Harjanti menyampaikan, Desa Caturtunggal merupakan salah satu desa destinasi wisata yang mengedepankan sektor kuliner. Selain itu, desa ini juga dikenal sebagai desa dengan sektor unggulan sebagai tempat pemancingan.

Keberadaan rumah makan serta sektor pariwisata sampingan lain berkembang dengan pesat yang memberikan dampak bagi lingkungan sekitar yaitu adanya penumpukan sampah yang dapat mengotori lingkungan sekitar dan tentu membuat warga dan para wisatawan yang berkunjung menjadi kurang nyaman. Di sisi lain, sampah memiliki nilai ekonomis bagi masyarakat jika dikelola dan dimanfaatkan dengan baik.

“Berdasarkan pengamatan, rata-rata jumlah sampah yang dihasilkan sudah mencapai tahap diperlukannya pengelolaan sampah secara terpadu,” jelasnya.

Hingga saat ini, limbah sampah yang dihasilkan dari sektor pariwisata pemancingan belum dimanfaatkan secara maksimal. Hanya limbah sampah organik yang berasal dari industri rumah makan dan pemancingan yang telah dimanfaatkan secara maksimal.

“Limbah sampah anorganik dianggap sebagai limbah plastik belum banyak dimanfaatkan oleh masyarakat sekitar, dikarenakan rendahnya literasi masyarakat pada pengelolaan sampah,” katanya. (*)

BERITA REKOMENDASI