Dugaan Kekerasan pada Siswa Hingga Operasi Usus, Ini Kata Kepsek MI Qurrota Ayun

SLEMAN, KRJOGJA.com – Muh Affifuddin, Kepala Sekolah MI Qurrota Ayun tempat SAGH (9) bersekolah, memberikan pernyataan terkait dugaan bullying yang viral di media sosial sejak Kamis (20/2/2020) kemarin. Pihak sekolah dengan tegas menyatakan tidak ada bullying yang dilakukan oleh siswa lain pada SAGH hingga menyebabkan sakit pada perut dan membutuhkan operasi.

Pihak sekolah dengan tegas mengatakan tak ada aksi bullying yang dilakukan siswa pada siswa lainnya, meski tak bisa memastikan lantaran tak ada CCTV di lokasi dugaan kejadian. Sekolah lantas menunjukkan hasil USG yang kemudian diketahui dari RS Bethesda tertanggal 10 Februari 2020 dengan kesan sonoanatomis tanda akut appendistis atasnama siswa berinisial SAGH tersebut.

“Kami dapat hasil USG ini dari pihak keluarga, hanya begitu saja sesuai yang kami sampaikan ke wartawan semua,” ungkap Affifuddin ketika ditemui, Jumat (21/2/2020) siang.

Kepada wartawan Affifuddin juga mengungkap pihak sekolah sudah melakukan investigasi dan memediasi antara korban dengan seorang siswa yang ditunduhkan melakukan pemukulan. Siswa yang ditunjuk tersebut menurut Affifuddin malah menangis dan bersikeras tak pernah melakukan pemukulan pada korban.

“Kalau dalam artian yang dipukuli, dipojokkan itu tidak ada. Menurut hasil penelusuran kami, kejadiannya saat hendak Sholat Dhuha. Jadi anak antri wudhu entah sengaja dipukul atau terpukul saya kurang tahu juga karena itu belum kita telusuri lebih lanjut, sehingga menyebabkan anak tersebut konon sakit perutnya. Kami juga dikirimi screenshot hasil USG, sampai saat ini betul tidak ada penganiayaan,” ungkapnya lagi.

Sekolah semakin yakin manakala siswa yang ditunjuk melakukan kekerasan tak memiliki catatan perbuatan buruk selama bersekolah. Mediasi pun menurut Affifuddin dilakukan lebih dikarenakan lokasi kejadian berada di sekolah seturut penuturan korban.

“Yang dituduhkan kelas 5 atau kelas 6. Penulusuran kami yang saya tanya itu tidak mengaku karena tidak melakukan. Korban bilang dipukul tapi di bagian mana belum bilang. Ketika merasa dipukul (korban) nengok belakang dan ternyata anaknya ini yang ada di belakang,” ungkapnya lagi.

Pihak sekolah menurut Affifuddin mengaku tetap akan bertanggungjawab pada siswa tersebut mengingat menurut penuturan korban, kejadian berada di lingkungan sekolah. “Sebenarnya Sabtu mau ketemu orang tua, kemudian menyampaikan tanggung jawab kami, sudah merencanakan ke sana bahwa ini bagian dari tanggung jawab kami sekolah. Kami akan siap biaya kalau memang itu yang diminta,” lanjutnya.

Hingga saat berita ini diturunkan, pihak keluarga siswa SAGH belum bersedia memberikan keterangan terkait dugaan bullying yang menimpa putranya. SAGH saat ini masih menjalani perawatan di RS Bethesda Yogyakarta setelah menjalani operasi pada bagian perut, 13 Februari 2020 lalu. (Fxh)

BERITA REKOMENDASI