Eks Napiter Bom Buku, Penjara Menjadi Titik Balik Kehidupan

Editor: Ivan Aditya

SEMBILAN tahun lalu, merupakan saat-saat tak terlupakan bagi Fajar, pria 34 tahun yang menghabiskan masa remajanya di Bogor Jawa Barat. Ayah dari tiga anak itu ingat betul, saat ia dan beberapa rekannya digerebek oleh Densus 88 Antiteror Mabes Polri.

Saat itu, mereka yang akhirnya divonis bersalah karena terlibat teror bom buku pada tahun 2011 lalu sedang berkumpul di sebuah rumah daerah Gunungsindur Bogor Jawa Barat. Dengan tangan terborgol, mulut dan mata dilakban mereka kemudian dibawa oleh Densus ke suatu tempat yang bahkan hingga saat ini, ia tidak tahu dimana keberadaannya. “Saat itu saya langsung feeling, penangkapan ini pasti terkait itu (bom buku),” cerita Fajar ditemui KRJOGJA.com di rumahnya daerah Sleman belum lama ini.

Mengenakan kaos hitam lengan panjang bertuliskan I’m Not Terrorist But I love Peace, Fajar tampak antusias menceritakan masa kelam hidupnya. Keterlibatannya dalam aksi terorisme bermula saat Fajar yang saat itu berusia 26 tahun, berkumpul dan dikenalkan oleh temannya dengan seorang pria bernama Pepi Fernando sekitar awal tahun 2011.

Pepi merupakan otak teror bom buku yang sedianya dikirim untuk Ulil Abshar Abdalla, namun melukai seorang perwira polisi. Menurut Fajar, Pepi kini masih menjalani hukuman atas ganjaran 20 tahun penjara.

Selain bom buku, Pepi juga merencanakan serangan di Gereja Christ Cathedral Serpong dengan bom yang berbentuk pipa. Namun sebelum bom itu meledak, Pepi tertangkap di Aceh pada 21 April 2011.

BERITA REKOMENDASI