Epidemiolog UGM Sebut Tes Acak Pemudik Tak Bisa Dijadikan Rujukan

Editor: Ivan Aditya

SLEMAN, KRJOGJA.com – Ketua Komite Penganan Covid-19 dan Pemulihan Ekonomi Nasional, Airlangga Hartarto menyampaikan pemerintah melakukan tes acak terhadap 6.742 pemudik yang melalui pos penyekatan dan didapatkan sekitar 4.123 yang terkonfirmasi positif. Dari data tersebut disimpulkan bahwa lebih dari 60 persen pemudik terkonfirmasi positif.

Epidemiolog UGM, Bayu Satria Wiratama, mengatakan data tersebut belum bisa menunjukkan gambaran angka sebenarnya sebab tes dilakukan secara acak dan tidak disebutkan alat tes deteksi covid-19 yang digunakan. “Belum tentu (angka sebenarnya), karena untuk menggambarkan kondisi sebenarnya kita perlu kaidah yg benar dalam mengambil sampel secara acak,” ungkap Bayu, Selasa (11/5/2021).

Menurut Bayu, jika pun tes secara acak menggunakan tes rapid antigen, swab PCR atau Genose C19 maka angka terkonfirmasi positif sebesar itu menunjukkan hal yang cukup mengkhawatirkan. Meski, hal itu tidak bisa menjadi dasar untuk mengatakan secara keseluruhan kondisi gambaran pemudik yang terpapar covid-19.

“Untuk mencapai gambaran sebenarnya perlu sistematika pengambilan sampel acak yang sesuai kaidah. Namun begitu upaya yang dilakukan pemerintah ini dilakukan untuk mengantisipasi adanya gelombang kedua pandemi dan kekhawatiran naiknya kasus covid-19 seperti yang terjadi di India,” sambungnya.

Hanya saja, Bayu menilai adanya larangan mudik tetap ada membingungkan masyarakat. Misalnya saja warga yang memilih mudik jauh-jauh hari bahkan menerobos pos-pos penyekatan mudik menjadi pemandangan di berita beberapa hari terakhir.

“Pelarangan mudik susah dilakukan apalagi tanpa penjelasan dan komunikasi yang bagus dari pemerintah. Misalnya kenapa mudik dilarang tapi berwisata boleh. Hal ini yang kemudian harus dijawab dengan detail oleh pengambil kebijakan, agar warga menjadi memahami secara menyeluruh maksud dan tujuannya,” lanjutnya.

Melihat situasi yang terjadi, Bayu menyarankan dilakukan pengetatan di wilayah tujuan mudik dengan melakukan tes Covid saat kedatangan dan penerapan karantina terlebih dahulu. Selanjutnya ada penguatan sistem surveilans dan monitoring kasus di masing-masing wilayah terutama sampai tingkat RT/RW.

“Apabila dilakukan sudah dilakukan deteksi dini dan diisolasi dengan cepat kasus yang muncul maka bisa ditekan penyebarannya. Intinya jika memungkinkan semua pemudik yang kembali pulang dikarantina dulu 5 hari dan dites dua kali. Terpenting juga tetap menerapkan protokol kesehatan,” tandas dia. (Fxh)

BERITA REKOMENDASI