EWS Longsor Karya UGM Ini Namanya ‘Sipendil’

Editor: KRjogja/Gus

SLEMAN, KRJOGJA.com – Peneliti Fakultas Geografi dan Pusat Studi Bencana Alam (PSBA) UGM beberapa tahun belakangan terus mengembangkan alat Early Warning System (EWS) tanah longsor yang sudah dipasang di 54 titik kawasan Wonosobo dan Temanggung. Alat yang diberinama Sipendil kependekan Sistem Peringatan Dini Longsor ini ternyata sudah memasuki generasi ketiga dan memiliki fungsi lebih baik dengan memanfaatkan ambang batas hujan. 

Nugroho Christanto, salah satu peneliti mengatakan Sipendil sebenarnya telah diinisiasi sejak tahun 2012 lalu di Sitieng Wonosobo. Kala itu, alat yang memanfaatkan ketebalan hujan mampu mendeteksi tanah longsor yang terjadi di kawasan tersebut sehingga mendapatkan kepercayaan warga. 

“Mulai saat itu kami terus mengembangkan dan menyempurnakan hingga tahun 2018 ini sudah generasi ketiga dengan model lebih baik dan kelengkapan alat yang semakin mudah dioperasikan. Fungsinya tetap sama yakni memberikan peringatan berdasar curah hujan yang mungkin bisa menimbulkan longsor,” ungkapnya dalam bincang media, Jumat (18/5/2018). 

Cara kerja Sipendil menurut Nugroho sangat sederhana sehingga diharapkan bisa diperbanyak oleh masyarakat. Kolektor yang dipasang di tempat terbuka dengan posisi tinggi akan mengirimkan curahan air menuju tabung yang bakal menganalisis ketebalan hujan. 

“Ketika lebih dari 50 milimeter, maka sensor menyala lampu LED akan menyala dan alat akan berbunyi. Di sini pemegang alat akan memutuskan apakah harus menyebarkan informasi pada masyarakat atau tidak, karena warga setempat yang paling memahami kondisi wilayahnya,” sambungnya. 

Di Sipendil tersebut, para peneliti UGM juga memasang baterai yang memungkinkan tetap beroperasinya alat meski kondisi listrik padam. “Kami belajar dari yang terdahulu bahwa ketika hujan deras biasanya listrik dipadamkan, inilah fungsi baterai agar alat tetap bisa digunakan,” sambungnya. 

Kini, setelah mendekati sempurna, para peneliti UGM berharap masyarakat luas terutama yang berada di kawasan rawan longsor bisa mengadaptasi Sipendil sebagai salah satu upaya pencegahan korban. “Alatnya cukup murah tidak sampai Rp 1 juta jadi bisa dibuat sendiri oleh masyarakat dan tingkat keterjangkauannya cukup luas bisa satu cekungan lereng dengan curah hujan yang sama,” pungkas Nugroho. (Fxh)

 

UGM

BERITA REKOMENDASI