Fakultas Peternakan UGM Miliki Kandang Ayam Otomatis

Editor: KRjogja/Gus

FAKULTAS Peternakan Universitas Gadjah Mada (UGM) terus mengembangkan diri dalam upaya meningkatkan kualitas lulusannya. Selain itu juga terus mengikuti perkembangan teknologi peternakan. Salahsatunya teknologi budidaya ayam potong (ayam broiler) melalui penyediaan kandang ayam dengan closed house system

.

Kandang yang dilengkapi teknologi canggih dengan serba otomatis ini, telah tersedia di Fakultas Peternakan UGM, setelah mendapat hibah dari PT Charoen Pokphand Indonesia Tbk. Keberadaan kandang ini bukti bahwa Fakultas Peternakan UGM siap menyongsong era teknologi 4.0.  Kandang closed house system

ini tidak sekedar kandang yang bermakna untuk memelihara ayam, akan tetapi juga merupakan riset farm bagi dosen dan mahasiswa. 

Teknologi kandang tertutup  ini menjamin keamanan secara biologi atau kontak dengan organisme lain, dengan pengaturan ventilasi udara yang baik sehingga mengurangi stress pada ternak. Tujuannya, untuk menyediakan udara dan iklim yang kondusif bagi ternak sehingga meminimalisasi tingkat stress.

Peresmian riset farm ini dilakukan, Kamis (20/12) lalu, ditandai dengan penandatanganan prasasti oleh Presiden Direktur PT Charoen Pokphand Indonesia Tbk, Dr (HC) Tjiu Thomas Effendy SE MBA,  Rektor Universitas Gadjah Mada (UGM), Prof Ir Panut Mulyono MEng DEng didampingi Dekan Fakultas Peternakan UGM, Prof Dr Ir Ali Agus DEA DAA IPU. 
Dalam sambutannya,  Tjiu Thomas Effendy mengemukakan, teknologi closed house

memiliki beberapa keuntungan, diantaranya jumlah kepadatan ayam lebih efisien, kondisi pertumbuhan bobot merata, efisiensi tenaga kerja karena semua peralatan dijalankan oleh motor, angka kematian rendah, dan suhu ruang dapat dikontrol. Sehingga pertumbuhan ayam bisa optimal dan dapat dipanen dalam waktu 30 hari. 

Jika perguruan tinggi dapat menjadikan kandang ini sebagai tempat magang, maka akan sangat positif bagi pembekalan lulusan untuk siap menghadapi dunia kerja sebagaimana dibutuhkan oleh kalangan industri. 

PT Charoen Pokphand Indonesia Tbk, sebagai pelopor industri perunggasan ayam broiler di Indonesia yang telah lama menggunakan tekhnologi closed house

ini dan sangat peduli dengan pendidikan, sehingga menghibahkan kandang ayam modern closed house

beserta peralatannya kepada UGM. Charoen Pokphand juga berperan aktif memberikan pendampingan dalam pengelolaan kandang  closed house

tersebut. 

Prof Panut Mulyono dalam sambutannya menyampaikan terima kasih kepada PT Charoen Pokphand Indonesia Tbk yang telah menghibahkan kandang closed houses system

untuk menjadi riset farm bagi Fakultas Peternakan UGM. Selain sebagai sarana pendukung proses pembelajaran dan penelitian, fasilitas ini dapat menjadi bagian penting dari upaya untuk menumbuhkan bibit kewirausahaan sosial di kalangan mahasiswa. Perguruan tinggi, menurutnya, kini memiliki fungsi sebagai agen pembangunan ekonomi melalui hilirisasi riset serta penciptaan lulusan yang mampu berkontribusi bagi perekonomian nasional. Untuk itu, mahasiswa  perlu mempunyai pola pikir untuk tidak hanya mampu bekerja di perusahaan atau instansi tertentu, tapi mampu membuat inovasi dan membuka lapangan kerja bagi orang banyak. 
"Socio-enterpreneurship menjadi spirit penyelenggaraan pendidikan di UGM. Kita tidak hanya perlu membekali mahasiswa dengan ilmu pokok dalam bidangnya, tetapi juga semangat kewirausahawan sosial yang tidak hanya mementingkan diri sendiri dalam bisnis," ujarnya.

Menurut Prof Ali Agus, bagi mahasiswa, keberadaan kandang berteknologi ini akan menjadi sarana pembelajaran sekaligus pembekalan yang sangat bagus bagi calon sarjana peternakan, sehingga mereka tidak gagap terhadap perkembangan teknologi bidang peternakan. Keberadaan fasilitas canggih ini sejalan dengan prodi Fakultas Peternakan UGM yaitu Ilmu dan Industri Peternakan. Dari aspek keilmuan diharapkan dari kandang ini akan turut berkonstribusi terhadap perkembangan ilmu peternakan, khusus seputar ayam broiler. 

Kandang modern ini diharapkan akan mengatasi persoalan yang saat ini masih menjadi kendala dalam pemeliharaan ayam. Salah satunya adalah limbah bau dari ammonia yang dihasilkan dari mekanisme biologis ayam. 
"Jika persoalan tersebut dapat ditemukan solusinya maka pembangunan kandang tidak akan terkendala lokasi. Sehingga kandang tidak harus jauh dari pemukiman (city farm0," ungkap Prof  Ali Agus.

Lebih lanjut dikatakan bahwa dengan adanya 'riset farm' ini, diharapkan mahasiswa  dapat memiliki sarana dan prasarana belajar tentang teknologi dan ilmu pengetahuan budi daya ayam broiler yang mutakhir. Selain itu, kandang ini dapat menjadi laboratorium bagi civitas akademika, sarana penelitian dan pengembangan, sarana praktik budidaya ayam, media aplikasi ilmu pengetahuan dan miniatur dunia usaha. Diharapkan ada inovasi-inovasi baru yang dihasilkan dari closed house

  tersebut dan dapat bermanfaat bagi masyarakat dan dunia usaha.

Dengan adanya kandang modern di kampus, maka diharapkan dapat membawa dampak positif bagi upaya meningkatkan produksi daging ayam secara nasional. Sejauh ini kontribusi daging ayam dalam pemenuhan protein hewani terus meningkat dari waktu ke waktu. Pada awal tahun 80an, kotribusinya hanya berkisar 20%, namun kini telah mencapai lebih dari 50%. 

Bagi Fakultas Peternakan UGM, kandang closed house system

ini merupakan kandang ke-7 yang dibangun dan dihibahkan oleh PT Charoen Pokphand Indonesia Tbk kepada perguruan tinggi. Kandang dalam konsep 'Teaching Farm' ada juga di Institut Pertanian Bogor (IPB, Bogor), Universitas Diponegoro (UNDIP, Semarang), Universitas Jenderal Soedirman (UNSOED, Purwokerto), Universitas Hasanuddin (UNHAS, Makassar), Univesitas Andalas (UNAND, Padang). 
PT Charoen Pokphand Indonesia merupakan perusahaan yang bergerak di bidang usaha industri makanan ternak, pembibitan dan budidaya ayam ras serta industri pengolahan makanan, melalui Charoen Pokphand Foundation – Indonesia (CPFI) sebagai lembaga yang menangani berbagai kegiatan sosial Charoen Pokphand dan anak perusahaannya terus konsisten dan memiliki komitmen yang kuat dibidang pendidikan untuk mencerdaskan kehidupan bangsa. (*)

UGM

BERITA REKOMENDASI