GEBRAK Tingkatkan Partisipasi Remaja dalam Tes HIV

Editor: Ivan Aditya

SLEMAN, KRJOGJA.com – Permasalahan global tentang HIV/AIDS yaitu belum semua masyarakat memeriksakan status HIVnya. Hal ini sangat dipengaruhi oleh stigma dikarenakan pemahaman yang salah terhadap HIV/AIDS. Oleh sebab itu, Dosen Pendidikan Profesi Bidan Universitas Respati Yogyakarta, Rizka Ayu Setyani, SST, MPH dan Fika Lilik Indrawati, S.SiT, MPH melakukan penelitian dengan menciptakan model pemberdayaan masyarakat yaitu Gerakan Bersama Kader (GEBRAK).

Intervensi ini merupakan suatu gerakan remaja yang tergabung dalam Satgas Remaja Tanggap HIV/AIDS (SETIA) sebagai strategi implementasi program pencegahan penularan HIV. Program ini berupa pemberian edukasi tentang HIV/AIDS serta memotivasi remaja agar melakukan Voluntary Counseling and Test (VCT).

Penelitian berjudul Intervensi Strategi Implementasi GEBRAK (Gerakan Bersama Kader) Terhadap Partisipasi Remaja dalam Voluntary Counseling and Test di Sleman, DIY bersumber dari dana Hibah Penelitian Dosen Pemula Kemenristekdikti tahun 2019. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efektifitas GEBRAK terhadap partisipasi remaja dalam melakukan VCT.

Pelaksanaan penelitian ini selama satu tahun di Desa Sinduadi, Kecamatan Mlati, Kabupaten Sleman, Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta dengan melibatkan mahasiswa kebidanan UNRIYO. Rangkaian penelitian dimulai dari pembentukan SETIA sebagai kepanjangan tangan Puskesmas.

SETIA kemudian melaksanakan perannya sebagai kader remaja dengan memberikan edukasi HIV/AIDS di 18 dusun. Puncaknya, adalah kegiatan GEBRAK SETIA pada Minggu (15/09/2019) yang diikuti oleh remaja berusia 18-24 tahun.

Kegiatan ini meliputi senam zumba, talkshow HIV/AIDS dan tes HIV oleh tim VCT Puskesmas Mlati 1. Hasilnya, terlihat antusiasme remaja yang berpartisipasi dalam tes HIV.

Salah satu responden mengatakan sangat tertarik dengan kegiatan edukasi HIV/AIDS ini. Selama ini, ia belum memahami dengan tepat apa itu HIV dan bagaimana penularannya. Ia juga mengaku belum pernah tes HIV karena takut jika ternyata positif hasilnya.

Responden lain berpendapat kegiatan ini sangat menarik karena mengajak remaja untuk deteksi dini HIV. Ia mengatakan baru sekali menjalani tes HIV dan tidak menyangka jika pelaksanaannya sangat simpel dan hasilnya dapat diketahui dengan cepat.

"Dulu saya tidak tahu apa itu VCT, bahkan menganggap HIV suatu penyakit yang menakutkan. Namun setelah mengikuti acara GEBRAK SETIA, saya menyadari pendapat saya itu keliru dan akan memberitahu teman-teman kuliah saya untuk tes juga," katanya.

Sebagai ketua peneliti sekaligus inisiator program GEBRAK, Rizka sangat berharap jika model pemberdayaan mayarakat ini dapat diterapkan juga di Desa lain sebagai pilot project berikutnya. Senada dengan Rizka, Fika yang merupakan tim peneliti mengatakan program GEBRAK yang dikemas dalam video edukasi promosi kesehatan masyarakat akan diproses kekayaan intelektualnya dalam bentuk hak cipta dan dipublikasikan secara online. (*)

BERITA REKOMENDASI