Gizi Itu Penting, Pelatih Akademi Laliga: Messi Dulu Tidak Makan Gorengan!

Editor: KRjogja/Gus

SLEMAN, KRJOGJA.com – Pembinaan sepakbola usia dini di masa pandemi menjadi perbincangan hangat dalam webinar Akademi di Tengah Pandemi yang digagas Jurnalis Olahraga Yogyakarta (JOY), Sabtu (20/2/2021) kemarin. Beberapa pembicara ekspert dihadirkan mulai Eladio Antonio R.R, Head Coach Estrellas Del Futbol (EDF) LaLiga Academy, Guntur Cahyo Utomo Direktur Akademi PSS, Rudi Eka Priyambada CEO Safin Pati Football Academy dan Mat Halil pemilik El-Faza FC Surabaya.

Berbagai isu dibahas dalam forum terbuka itu seperti perbedaan pembinaan usia muda di Indonesia dan luar negeri, tantangan yang ada di dalam pembinaan di Indonesia hingga bagaimana kurikulum seharusnya untuk pemain usia muda. Eladio misalnya, menyampaikan materi menarik di mana sebuah akademi harus bisa berelaborasi dengan budaya setempat agar pembinaan berlangsung maksimal.

Spanyol dan Indonesia menurut Eladio memiliki kesamaan budaya sepakbola yakni bola cepat dengan sentuhan dari kaki ke kaki. Hal tersebut membuatnya yakin bawasanya anak-anak Indonesia sangat mungkin berkiprah di kancah internasional karena adanya kemiripan budaya sepakbola.

“Namun sampai saat ini masih ada perbedaan yakni fasilitas hingga kultur masyarakat, kebiasaan. Di Indonesia, perhatian pada asupan gizi tidak bisa dijalankan sempurna karena anak-anak makan dan minum di rumah masing-masing. Apalagai terkait budaya, di Indonesia anak-anak itu suka makan gorengan. Iya gorengan, beda kalau di Spanyol dulu Messi tidak makan gorengan,” ungkap Eladio tersenyum di depan forum seminar online tersebut.

Hal tersebut membuatnya melakukan penyesuaian di akademi yang dipimpinnya. Eladio menekankan adanya prinsip bahwa pemberian materi sepak bola untuk anak usia 6 tahun tidak boleh disamakan dengan usia yang jauh di atasnya. Bahkan untuk penyampaian materi kepada peserta akademi juga harus dibedakan berdasarkan usianya.

BERITA REKOMENDASI