GKR Hemas-Muslimatun, Cerita Tentang Perempuan Berdaya

SLEMAN, KRJOGJA.com – Hari Minggu pagi, seperti biasa Sri Muslimatun mengisi harinya dengan berbagai pertemuan. Namun, yang berbeda di pagi itu, ia menerima telepon dari sahabatnya, Gusti Kanjeng Ratu (GKR) Hemas.

“Bu Mus, nanti siang ada waktu kosong? Ikut saya ketemu ibu-ibu hebat di Mrican Caturtunggal,” begitu ajakan Gusti Ratu.

Tanpa pikir panjang, Muslimatun menjawab, “Bu Ratu, saya tak punya alasan untuk menolak ajakan ini, siap saya merapat,” katanya antusias.

Mendengar kata ibu-ibu hebat dari Mrican, Muslimatun langsung tertuju pada Kelompok Wanita Tani (KWT) Srikandi di Gang Kuwera Padukuhan Mrican Caturtunggal Depok. Sebuah organisasi beranggotakan ibu-ibu yang bergerak di bidang perkebunan. Pertemuan yang tak terjadwalkan itu pun terlaksana. Dua sahabat lama berjumpa, membaur bersama para Srikandi Mrican.

GKR Hemas dan Sri Muslimatun terkagum dengan keberhasilan ibu-ibu KWT membentuk sistem ketahanan pangan dengan cara berkebun. Mereka memanfaatkan lahan seluas 540 meter persegi milik kas Desa Caturtunggal. Di lahan ini ditanami 33 jenis sayuran, buah-buahan, dan tanaman lainnya. Kebun organik itu dirintis sejak tahun 2015 dan hingga kini, kebutuhan sayuran untuk keluarga ibu-ibu KWT selalu terpenuhi. Adalah Nur Handayani, Ketua KWT yang aktif memberi semangat pada anggotanya. Nur menuturkan, selain berkebun di lahan bersama, para ibu juga memiliki tanaman masing-masing dengan memanfaatkan lahan di pekarangan rumah.

Beragam jenis sayuran ditanam di dalam polybag atau kantong plastik dengan metode vertikultur. “Setiap keluarga mempunyai 70 polybag yang ditanami terong, tomat, cabai, sawi, bawang merah, kangkung, bayam, dan sayur lainnya,” katanya. Selain bisa memenuhi kebutuhan pangan, ibu-ibu KWT juga membuat produk olahan. Produknya berupa keripik, peyek, dan lainnya. “Ibu-ibu di sini jualan lewat online. Praktis, gak harus keluar,” ujar Nur Handayani.

BERITA REKOMENDASI