Guru Honorer Berpotensi Jadi Kunci Perubahan

Editor: KRjogja/Gus

SLEMAN, KRJOGJA.com – Guru honorer masih jarang mendapat peningkatan kompetensi dikarenakan posisi tawar mereka yang lemah secara struktural. Padahal, para guru honorer itu banyak terlibat dalam praktik mendidik generasi muda secara langsung di ruang kelas. Guru honorer berpotensi menjadi kunci perubahan paradigma pendidikan Indonesia dan Gerakan Sekolah Menyenangkan (GSM) mengakomodasi peran strategis tersebut.

GSM sadar akan hal itu dan bersama Dinas Pendidikan Kabupaten Sleman menggelar pelatihan untuk para guru Pegawai Honorer Lepas (PHL) di Sleman. "Ada banyak guru PHL yang antusias dengan perubahan GSM dan komunitas guru gotong-royong untuk menyebarkan semangat ini. Beberapa di antaranya bahkan sudah berinisiatif memulai perubahan lingkungan positif di sekolahnya. Kami pun berdiskusi dengan Dinas Pendidikan terkait semangat perubahan ini," ujar Khoiry Nuria, guru SDN Jetisharjo sekaligus salah seorang penggerak GSM di Sleman disela Workshop Guru Pegawai Honorer Lepas di Twins Resto Sleman, Jalan Dr Radjimin, Tridadi Sleman, Senin (3/2/2020).

Kepala Seksi PTK Dinas Pendidikan Sleman, Fajar Taufik menyambut gembira perubahan GSM. Menurutnya, pelatihan ini sejalan dengan program dinas yang bertujuan meningkatkan kapasitas guru-guru PHL. "Pergerakan GSM di Sleman begitu tampak di sekolah dan kami dari dinas turut memfasilitasi permintaan serta kebutuhan guru untuk berkembang. Harapannya, dengan pelatihan ini guru-guru semakin baik dan bersemangat dalam mengajar,” ujar Taufik yang juga menjadi Ketua Panitia workshop itu.

Pendiri GSM Muhammad Nur Rizal menekankan peran strategis guru honorer ini harus diakomodasi untuk memajukan pendidikan. Menurut Nur Rizal, guru honorer harus dibekali pelatihan yang mampu mengubah perubahan. Selama ini, mereka hanya mendapatkan workshop terkait administrasi, sementara yang dibutuhkan dalam pendidikan adalah peningkatan kompetensi yang lebih kontekstual dengan zaman. 

“Secara kultural, peran guru honorer sangat strategis karena merekalah pelaku lapangan yang banyak terlibat langsung dengan anak-anak dan orangtua. Sudah selayaknya mendapat peningkatan kompetensi agar mampu menyiapkan anak menghadapi era VUCA (Volatility, Uncertainty, Complexity, Ambiguity)," tandas pria yang juga merupakan Dosen Universitas Gadjah Mada itu.

Di sisi lain, tidak adanya ikatan dengan dinas memungkinkan guru honorer menjadi lebih gesit dan fleksibel dalam melakukan perubahan. Menurut Nur Rizal, dengan kemerdekaan ini, mereka akan lebih mampu untuk memperluas koalisi dan mengasah kompetensi baru, bahkan sampai menerapkan platform GSM ini di daerah-daerah lain. Workshop dihadiri 150 orang guru honorer dan Disdik Sleman. Workshop akan berlangsung selama lima hari, pada 3-5 dan 7-8 Februari 2020. (Dev)

BERITA REKOMENDASI