Guru Seni Berkumpul di Yogyakarta, Ini yang Dibahas

SLEMAN, KRJOGJA.com – Sekira 200 guru seni budaya (SD, SMP dan SMA/SMK) dari seluruh wilayah Indonesia berkumpul di Pusat Pengembangan dan Pemberdayaan Pendidik dan Tenaga Kependidikan (P4TK) Seni dan Budaya 10-12 Desember 2018. Para guru tersebut mengikuti Kongres Nasional Guru Seni dan Budaya Indonesia yang baru kali pertama dilaksanakan. 

Drs M Muhadjir MA Kepala Pusat Pengembangan dan Pemberdayaan Pendidik dan Tenaga Kependidikan (PPPTK) Seni dan Budaya mengatakan kongres guru seni budaya kali ini merupakan yang pertama kali di Indonesia. Menurut dia, guru seni budaya merupakan garda terdepan dalam membentuk karakter anak muda Indonesia. 

“Kami baru pertama kali mengumpulkan para guru seni budaya untuk menggelar pertemuan dalam kongres ini. Kami ingin memberikan ruang diskusi karena guru seni budaya punya tugas penting dalam membangun karakter anak Indonesia yakni menjauhi kekerasan juga menjauhi intoleransi,” ungkapnya pada wartawan di sela dialog Selasa (11/12/2018). 

Muhadjir mengatakan kongres guru seni budaya tersebut diharapkan mampu menjadi tonggak awal bersatunya para guru dalam satu visi untuk mewujudkan Keindonesiaan. “Tahun ini baru kali pertama, peserta cukup banyak 200-an, tahun depan bahkan sudah banyak yang ingin ikut serta bahkan siap datang tanpa dibiayai karena memang saat ini yang paling berat adalah olah pikir sehingga para guru sangat antusias ikut dalam diskusi mengurai permasalahan yang dihadapi,” sambungnya. 

Dalam rangkaian acara tiga hari, para guru seni budaya diajak berdiskusi bersama narasumber seperti Dr Bambang Hudayana, Prof Ki Supriyoko, Dr Chaerul Slamet, Prof Suminto Sayuti dan banyak narasumber lainnya. Para guru diajak menyelami lebih dalam tugas serta kewajiban besar mereka dalam membentuk karakter generasi muda Indonesia. 

Salah satu peserta, Abdul Kadir Munsi Spd dari SMP N 11 Jayapura mengaku kongres tersebut cukup menarik lantaran selama ini di Papua khususnya masih memiliki permasalahan dalam pengembangan seni dan budaya di tingkat sekolah. “Kami bisa sharing di kongres ini, bertemu guru dari daerah lain dan mendapat masukan bagaimana mengatasi permasalahan yang kami hadapi di Jayapura. Harapan kami bisa rutin dilaksanakan,” ungkapnya. (Fxh)

BERITA REKOMENDASI