Hadapi Revolusi Industri 4.0, Kadin DIY Tingkatkan Produktivitas SDM

SLEMAN, KRJOGJA.com – Dunia usaha di Indonesia masih mempunyai tantangan besar untuk mendapatkan pekerja atau sumber daya manusia (SDM) yang sesuai dengan kebutuhan industri pada era revolusi industri 4.0.  Untuk itu, Kamar Dagang dan Industri (Kadin) DIY menjalin kemitraan dengan Industrie-und  Handelskammer (IHK) Trier atau Kadin Jerman untuk mengembangkan sistem vokasi demi menjawab kebutuhan SDM yang dibutuhkan dunia usaha sekaligus menggandeng  PT Asuransi Ekspor Indonesia (Persero) atau Asuransi Asei guna memperkuat daya saing produk ekspor DIY.  

Ketua Umum Kadin Indonesia Rosan Perkasa Roeslani menuturkan SDM merupakan kunci keberhasilan suatu bangsa karena dilihat historisnya, bangsa yang maju dan berkembang adalah yang human capital-nya bisa beradaptasi, maju dan meningkatkan produktivitas tenaga kerja. Salah satu kendala yang dihadapi adalah produktivitas tenaga kerja di Indonesia yang masih ketinggalan dibandingkan produktivitas negara-negara tetangga atau ASEAN lainnya. Untuk itu, sesuai arahan dari Presiden Joko Widodo (Jokowi) untuk berupaya meningkatkan kualitas SDM  di tanah air dengan kucuran anggaran mencapai lebih dari Rp 500 trilliun untuk SDM yang harus dilakukan segera secara terukur dan terstruktur.

"Program pendidikan vokasi yang paling tepat diaplikasikan sebagai upaya meningkatkan kualitas SDM di Indonesia, termasuk di DIY. Pembangunan SDM memang pembangunan jangka panjang dan tidak bisa dilihat hasilnya dalam waktu singkat tetapi harus dilakukan bersama-sama semua pihak. Bahkan, Pemerintah memberikan insentif sebesar 200 persen bagi perusahaan yang ikut program vokasi tersebut," papar Rosan disela-sela Rapat Kerja Pimpinan Daerah (Rapimda) Kadin DIY 2019 di Hotel Sahid Jaya Babarsari, Senin (22/7/2019).

Rosan mengungkapkan tantangan menghadapi revolusi industri 4.0 adalah SDM yang sesuai dengan kebutuhan industri, sebab tenaga kerja siap pakai saat ini tidak sesuai dengan kebutuhan industri sehingga harus diberikan pelatihan lagi. Tantangan tersebut sudah disampaikan kepada Pemerintah terutama terkait digital ekonomi karena perubahan digital sangat cepat sehingga bidang-bidang pekerjaan yang ada saat ini akan hilang seperti teller di bank akan lama-lama akan hilang. Pemerintah juga harus beradaptasi dan bergerak cepat baik dari segi peraturan maupun kurikulum. 

"Analisanya akan ada pengurangan pekerja setidaknya total 70 juta hingga 80 juta secara kumulatif kedepannya. Kuncinya adalah pengembangan produktivitas  SDM yang menjadi prioritas dan sesuai dengan kebutuhan maupun potensi daerah seperti di DIY lebih ke sektor pariwisata," tandasnya.

Wakil Gubernur DIY KGPAA Paku Alam X yang mewakili Gubernur DIY menyampaikan revolusi industri 4.0 telah mendorong inovasi-inovasi teknologi yang memberikan dampak distrupsi atau perubahan fundamental dalam kehidupan masyarakat. Perubahan ini menjadi fenomena yang akan sering muncul pada era revolusi industri generasi keempat ini, salah satunya akan menghapus 35 persen pekerja dan akan bertambah menjadi 75 persen pekerja pada 10 tahun mendatang. Terjadi pergantian dari tenaga kerja manusia menjadi mesin sehingga proses produksi lebih mudah dikerjakan dan didistribusikan. 

"Tantangan revolusi industri 4.0 ini harus dihadapi dengan reformasi SDM dengan peningkatan literasi yang wajib dikuasi terutama elemen softskill atau pengembangan karakter untuk bisa berkolaborasi dan adaptif di era banjir informasi. Kita semua yang ada di DIY harus mau dan selalu belajar teknologi informasi untuk menghindari ketertinggalan, mampu bersaing serta bertahan atau tidak tertinggal di era revolusi industri 4.0," tutur Paku Alam X. 

Ketua Umum Kadin DIY Gusti Kanjeng Ratu (GKR) Mangkubumi mengatakan perubahan dunia kini telah memasuki era revolusi industri 4.0 atau revolusi industri dunia yang keempat di mana teknologi informasi menjadi basis kehidupan manusia, era ini akan mendistrupsi berbagai aktivitas manusia termasuk di dalamnya bidang ilmu pengetahuan dan teknologi serta pendidikan tinggi. Segala hal menjadi tanpa batas dengan penggunaan daya komputasi dan data yang tidak terbatas yang dipengaruhi perkembangan internet dan digital. 

"Tantangan revolusi industri 4.0 ini harus direspon cepat dan tepat oleh pemangku kepentingan agar mampu bertahan dalam menghadapi persaingan global. SDM sangat penting bagi pembangunan daerah maka sangat diperlukan berbagai upaya dalam meningkatkan kualitas SDM," ujar GKR Mangkubumi. 

Dalam Rapimda Kadin DIY 2019 ini dilakukan penandatangan naskah kesepakatan atau MoU antara Kadin DIY dengan Asei dengan tujuan mendukung upaya pertumbuhan dan perkembangan serta memperkuat daya saing produk ekspor di DIY.  Selanjutnya juga dilakukan penandatangan program kemitraan Kadin DIY dengan IHK Trier Jerman dengan tujuan memungkinkan Kadin DIY dalam  mengintegrasikan pendidikan kejuruan dengan dunia usaha.

Perwakilan IHK Kadin Trier Jerman Andreas Gosche menambahkan fokus utama kerjasama dengan Kadin DIY adalah pengembangan SDM guna mengurangi ancaman dan tantangan industri 4.0. Sebab sistem kurikulum pendidikan di Indonesia masih banyak teori daripada praktik sehingga SDM yang dihasilkan banyak yang keluar tetapi tidak terampil. Sehingga pihaknya ingin mengembangkan sistem vokasi yaitu belajar di sekolah sekaligus di lapangan supaya ada teori dan ketrampilan praktik sehingga saat lulus sudah mempunyai pengalaman kerja dan lebih mudah mendapatkan pekerjaan. 

"Kami mengenalkan sistem vokasi ini di pendidikan kejuruan sekaligus menjawab kebutuhan dunia usaha di Indonesia," tambah Andreas. (Ira) 

BERITA REKOMENDASI