Ibukota Baru Tak Ingin Tiru Putrajaya Malaysia

SLEMAN, KRJOGJA.com – Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR), Basuki Hadimoeljono menjadi pembicara kunci dalam kuliah umum mahasiswa baru Program Pascasarjana Fakultas Teknik UGM, Selasa (27/8/2019) siang. Di hadapan mahasiswa baik penempuh Magister dan Doktoral, Basuki menjabarkan ide pemindahan ibukota negara (IKN) yang telah disampaikan presiden ke wilayah Kalimantan Timur meliputi sebagian Penajam Paser Utara dan Kutai Kertanegara. 

Basuki mengungkap pemerintah sudah melakukan penelitian pemindahan ibukota sejak tahun 2018 lalu secara diam-diam. Tiga kementrian ikut andil melakukan penelitian hingga perancangan pembangunannya meliputi Bappenas, Kementrian ATR dan Kementrian PUPR. “Sudah diteliti tidak ada batubara, airnya juga bagus karena ada Mahakam yang jaraknya tak sampai 30 kilometer. Bappenas melakukan penelitian dan keputusannya pindah, presiden sudah memberikan pernyataan, Kementrian ATR sudah amankan tanah negara, maka kita akan mulai pembangunannya pada pada 2020,” ungkap Basuki. 

BACA JUGA :

Seperti Ini Penampakan Desain Ibu Kota Baru

800 Ribu PNS Bakal Pindah ke Ibu Kota Baru

 

Basuki menyampaikan pihaknya telah melakukan perencanaan matang termasuk kajian infrastruktur, pembiayaan hingga dampak sosial ekonominya. Konsep city in the forest diusung dengan kota dengan inklusif sosial, produktif secara ekonomi dan ramah lingkungan. 

“Kita sudah konsepkan, perancangnya alumni UGM juga. Pemerintah ingin perbanyak ruang publik. Mewujudkan kota cerdas dan modern. Pertama dilakukan pembangunan 40000 hektare dan berkembang jadi 180000 hektare di tahap selanjutnya,” sambung Basuki. 

Di hadapan mahasiswa Teknik UGM, Basuki juga menceritakan telah melakukan penelitian pada 78 negara lain yang telah melakukan pemindahan ibukota hingga saat ini. Secara khusus, Basuki mengungkap tak ingin meniru apa yang dilakukan Malaysia dengan memindahkan ibukota ke Putrajaya yang jaraknya tak lebih dari 20 kilometer dari Kuala Lumpur. 

“Ada alasan memilih di sebagian Kutai dan Penajam, karena ada diantara dua kota berkembang yakni Samarinda dan Balikpapan. Kita sudah pelajari 78 ibukota pindahan. Kita tak ingin seperti Putrajaya di Malaysia yang kalau malam sangat sepi karena ASN-nya pulang sore hari setelah bekerja hingga kemudian kotanya tak berkembang,” imbuh Basuki. 

Dipindahkannya ibukota Indonesia ke Kalimantan Timur dipastikan akan membawa migrasi lebih dari 1,5 juta ASN dan keluarganya dari Jakarta. Hal tersebut menurut Basuki membawa dampak positif bagi kemajuan kota secara pemerintahan maupun perekonomian.  Pulau Kalimantan menurut Basuki juga menjadi pilihan terbaik lantaran memiliki tingkat kebencanaan terendah dibandingkan pulau lain di Indonesia. (Fxh)

BERITA REKOMENDASI