Indonesia Tuan Rumah Pertemuan CCSBT ke-24

SLEMAN, KRJOGJA.com – Pertemuan tahunan ke-24, The Commission for the Conservation of Southern Bluefin Tuna (CCSBT) 2017 digelar di Indonesia 9-12 Oktober 2017. Yogyakarta dipilih sebagai tuan rumah bagi delapan negara anggota penuh dan satu negara bukan penuh untuk menjadi tuan rumah pertemuan yang membahas pengaturan penangkapan tuna sirip biru selatan (South Bluefin Tuna) di laut lepas.

Indra Jaya, Chair of Annual Meeting CCSBT kepada wartawan dalam temu pers usai pembukaan di Royal Ambarrukmo Hotel Senin (9/10/2017) mengungkap sembilan negara peserta termasuk Indonesia memiliki konsern pada keberlanjutan ikan tuna sirip biru di dunia. Hal tersebut menurut Indra menjadi salah satu dasar Indonesia bergabung dalam Regional Fisheries Management Organization (RFMO) di mana salah satu bagiannya yakni CCSBT.

“Pertemuan ini diikuti sembilan negara yakni Australia, Uni Emirat, Taiwan, Indonesia, Jepang, Korea Selatan, Selandia Baru dan Afrika Selatan juga Filipina sebagai anggota tidak penuh. Tujuannya membahas salah satunya agar orang tidak seenaknya menangkap ikan tuna sirip biru. Agenda meeting CCSBT ini mengatur bersama agar keberlanjutan jenis tuna sirip biru selatan bisa terjaga mengingat jumlahnya yang terbatas,” ungkap Indra.

Dalam pertemuan ke-24 ini, agenda yang juga cukup penting yakni evaluasi dari seluruh negara anggota tentang pemanfaatan tuna sirip biru selatan khususnya Indonesia yang mendapatkan jatah 750 ton di tahun 2017. “Di sini Indonesia punya kepentingan untuk menjamin pemanfaatan kuota tuna sirip biru selatan secara maksimal karena tahun 2016 lalu kita masih punya kuota sisa yakni 149 ton,” sambungnya.

Sementara pemerintah yang diwakili Kementrian Kelautan Perikanan (KKP) menyatakan telah melakukan berbagai langkah untuk memastikan tidak adanya tindak Illegal, Unreported, Unregulated (IUU) Fishing atau penangkapan ikan ilegal di wilayah Indonesia. Pembentukan Satgas 115 serta integrasi data Vesael Monitoring System (VMS) dengan Global Fishing Watch menjadi bukti nyata keikutsertaan menjaga keberlanjutan usaha perikanan tuna dunia.

“Indonesia juga sudah mendorong dunia untuk menyatakan IUU Fishing sebagai transnational organized crime yang harus diberantas bersama. Indonesia juga sudah menerapkan standar operasional prosedur di pelabuhan penangkapan ikan untuk memperkuat pengawasan dan mencegah IUU Fishing,” terang Direktur Pengelolaan Sumber Daya Ikan Ditjen Perikanan Tangkap KKP Reza Shah Pahlevi.

Tuna sirip biru selatan sendiri selama ini menjadi salah satu andalan ekspor Indonesia yang memang penyumbang terbesar produksi global dengan persentase 16 persen. Nilai ekspor tuna baik bentuk segar maupun beku dan olahan mencapai Rp 650 miliar atau USD 50 juta per tahun. (Fxh)

BERITA REKOMENDASI