Industri TPT Mampu Jadi Andalan Pertumbuhan Ekonomi DIY

Editor: Ivan Aditya

SLEMAN, KRJOGJA.com – Industri manufaktur khususnya industri tekstil dan produk tekstil (TPT) merupakan salah satu sektor strategis dan prioritas karena memberikan kontribusi signifikan terhadap perekonomian di DIY. Sebagaimana diketahui, sektor industri tersebut telah memberikan kontribusi terbesar bagi perekonomian DIY sebesar 13 persen PDRB DIY. Melihat potensi dan kontribusi industri TPT yang mampu menjadi penghasil devisa yang cukup besar maka diperlukan strategi pengembangan sektor prioritas ini dalam rangka mengakselerasi pemulihan maupun pertumbuhan ekonomi daerah.

Plt Kepala Perwakilan Bank Indonesia (BI) DIY Miyono menyampaikan pihaknya akan menganalisis masukan dari perwakilan asosiasi pelaku usaha bisnis industri manufaktur khususnya industri TPT di DIY sebagai bahan pembuat kebijakan. BI, dalam hal ini intinya untuk mengetahui dan menganalisis permasalahan yang dihadapi pelaku ekonomi riil sekaligus optimisme mereka terhadap prospek industrinya kedepan untuk membuat suatu kebijakan yang diusulkan kepada pimpinan BI maupun Pemda DIY secara umum.

“BI meskipun di sektor moneter, kita tidak akan meninggalkan sektor riil sehingga terus dimonitor perkembangannya. Jika ditanya seputar perekonomian DIY baik dari penopang, permasalahan dan sebagainya, kita bisa memberikan informasi. Saya amati, perkembangan industri semakin bertambah sejak adanya Jalan Tol terutama di sisi utara Jawa dan memberikan peta perubahan industrialisasi di Jawa kedepannya,” tuturnya dalam Focus Group Discussion (FGD) Kerjasama BI DIY, ISEI DIY, KADIN DIY & SKH Kedaulatan Rakyat di Parsley Bakery Adisutjipto, Senin (20/12/2021).

Miyono menegaskan BI tetap setiap mengawal sektor riil agar kebijakan yang dihasilkan BI berdampak pada sektor riil itu sendiri. Karena sebenarnya yang menumbuhkan ekonomi adalah pemerintah. BI dalam hal ini menjaga supaya perekonomian tidak bergoyang alias stabilitas perekonomian baik keuangan, nilai tukar, inflasi dan sebagainya. Contohnya BI menurunkan suku bunga tujuannya untuk pertumbuhan ekonomi, hanya memang yang mendongkrak tetaplah pemerintah yang mempunyai anggaran sedangkan BI dengan kebijakannya.

Wakil Ketua Umum KADIN DIY bidang Organisasi Robby Kusumaharta menyampaikan strategi transformasi ekonomi DIY yaitu perubahan mindset, meningkatkan kinerja ekonomi dan kinerja manufacturing, memperkuat pariwisata sebagai engine growth, transformasi digital dan upscaling human capital. Kegiatan manufacturing di DIY pada industri terpasang harus didukung penuh oleh Pemerintah maupun DPRD.

“DIY butuh percepatan tumbuhnya manufaktur baru selain untuk pasar domestik juga pasar ekspor yang memberi banyak peluang terutama akibat perang dagang China vs Amerika. Ditambah kebijakan negara membatasi ekspor bahan baku menuju hilirisasi,” tandasnya.

Ketua Badan Pengurus Provinsi (BPP) API DIY DIY Iwan Susanto menyampaikan mayoritas industri pertekstilan di DIY dari sisi market adalah ekspor garmen, sedangkan yang pasar lokal berupa pemintalan benang, pertenunan, rajut dan pengolahan finishing. Industri tekstil di DIY secara keseluruhan trennya terlihat ada perbaikan untuk pasar ekspor pasca pandemi sehingga industri garmen sudah merangkak sudah mulai membaik kondisinya. Namun pola bisnis dengan adanya pandemi Covid-19 ini, semua orang butuh kehati-hatian dan pola kerja bahkan pola ekspor pun mekanismenya sudah beda.

“Lokal sendiri perusahan dituntut bayar tunai di depan, jadi semua memperketat untuk pembayaran. Ada tiga produk utama tekstil yaitu katun, rayon dan polyester. Trennya berbeda tahun ini, perusahaan yang bertahan tergantung pasar yang dipegangnya. Pemain katun berguguran di awal pandemi dan pemain pabrikan rayon dan polyester bertahan,” ujarnya.

Iwan mengungkapkan terjadi supply chain atau rantai pasokan dunia kacau dengan problematika utama pada transportasi dengan mahalnya harga sewa kontainer dan salah satu bahan baku material yang dibutuhkan industri tekstil kapas yang impor mengalami lonjakan harga luar biasa hingga 130 persen. Kemudian terjadi kekosongan barang maka mau tidak mau terjadi penyesuaian barang. Sementara, pasar lokal sudah mau bangkit dan pengusaha sudah melihat harapan tahun depan karena DIY sangat potensial pergerakan pariwisata dan retailnya.

“Kami berharap agar pemerintah menutup kran impor produk-produk tekstil dan semua kebijakan atau aturan bisa memudahkan usaha serta lebih concern lingkungan melihat kondisi saat ini. Pasar lokal kita digempur produk impor karena semua perusahaan tekstil mencari lahan baru menjual produknya. Sehingga kita berharap ada keberpihakan dari pemerintah dalam mendukung pertumbuhan industri tekstil di tanah air karena semuanya butuh market. Jangan kita malah digempur produk impor, inilah yang harus kita proteksi,” tandasnya.

Sekretaris ISEI DIY Y Sri Susilo menyatakan industri TPT sebenarnya digadang-gadang menjadi sunset industri atau salah satu sektor yang berperan penting karena memberikan kontribusi signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi. Dasarnya produk tekstil adalah produk primer dengan permintaan akan terus berubah seiring dengan perkembangan fashion sehingga tidak mungkin menjadi sunset industri. Kini, pemerintah telah menetapkan industri TPT menjadi salah satu industri  unggulan yang harus didukung dan didorong. Hal ini sesuai dengan penerapan peta jalan Making Indonesia 4.0 dalam upaya kesiapan menghadapi era revolusi industri 4.0.

“Kontribusi industri TPT di DIY baik dari ekspor, tenaga kerja dan sebagainya sudah tidak perlu diragukan lagi sekarang. Sebelumnya yang menjadi anak emas adalah pariwisata, padahal industri TPT tidak kalah memiliki kontribusi terhadap pertumbuhan ekonomi daerah. Terlebih tidak ada laporan PHK dari industri TPT di DIY, ini terbukti tahan banting,” tegasnya.

Anggota ISEI DIY Bakti Wibawa menambahkan industri tekstil membutuhkan keberpihakan dari pemerintah terutama dari sisi kebijakan dari hulu hingga hilir. Dukungan tersebut seperti proteksi bahan baku, kemudahan distribusi, regulasi, ramah lingkungan hingga pengelolaan limbah industrinya. Keberpihakan maupun stimulus dari pemerintah inilah yang akan membantu mendorong perkembangan industri pertekstilan di daerah. (Ira)

BERITA REKOMENDASI