Jakarta Dangdut Revolution, Padukan Musik Dangdut dengan EDM

Editor: KRjogja/Gus

SLEMAN, KRjogja.com – Musik dangdut memang tiada matinya. Sejak zaman Rhoma Irama, dangdut telah berevolusi menjadi salah satu musik populer di Indonesia. Tak heran, kini banyak muncul sub-genre dangdut yang mampu mengajak penonton bergoyang tanpa kehilangan esensi tabuhan ketipung.

Seperti yang dilakukan Jakarta Dangdut Revolution (JDR). Mereka memadukan ketukan Electronic Dance Music (EDM) dengan musik dangdut, lengkap dengan suling dan tabuhan drum. Perpaduan itu nyatanya mampu membuat siapa saja yang mendengarkan ikut bergoyang mengikuti irama lagu.

"Kami kira dangdut itu istimewa, sehingga itulah yang membuat kami ingin meneruskan perjuangan dangdut," buka Ishal, salah satu personil JDR ketika berbincang dengan tim KRjogja.com beberapa waktu lalu. Ia menjelaskan, mendengar musik dangdut tak perlu mempelajari lirik atau musiknya.

Selama mendengar bunyi ketipung ditabuh, dipastikan para pendengar akan mulai bergoyang. "Sebagai orang Indonesia, pasti suka dangdut, minimal goyang jempol kaki deh karena musik dangdut ini memang memaksa semua untuk goyang," tambahnya lagi.

Maka, JDR yang beranggotakan 8 orang ini berupaya untuk terus melestarikan musik dangdut. Untuk mendapatkan lebih banyak penggemar, mereka mulai menyajikan dangdut dengan musik EDM yang memiliki karakteristik berbeda.

EDM sendiri terkenal sebagai musik dansa yang berasal dari Eropa. Umumnya, musik ini dimainkan di klub malam. Akan tetapi, ruh EDM dan dangdut sebenarnya tak jauh beda, yakni sama-sama mengajak pendengar joget.

"Awalnya ada yang komplain juga, kenapa lagu yang kami cover jadi aneh karena dipadukan dengan EDM itu, tantangannya di situ, tapi lama-lama banyak yang suka," terang Ishal yang menjadi pembetot bass JDR. Tak heran, meski baru dibentuk 1,5 tahun lalu, JDR sendiri sudah memiliki cukup banyak agenda manggung dari kota ke kota, khususnya saat tahun baru.

Disinggung mengenai eksistensi, Ishal mengakui JDR mulai banyak dikenal orang. Baginya, itu adalah suatu apresiasi yang tak ternilai. "Wajar saja kalau belum ada yang melihat siapa JDR. Jarang ada yang langsung melihat kita saat kita belum jadi," ucapnya.

Meski mengusung embel-embel Jakarta, ia mengakui, Jakarta adalah kota yang susah untuk ditaklukan. Warga ibukota masih belum bisa menerima musik dangdut EDM atau dangdut itu sendiri. Namun, bagi Ishal itu bukan masalah.

"Di kota lain, kami cukup diapresiasi. Maka, kami berusaha membuat karya yang lebih baik lagi agar bisa segera diterima. Kami tidak mengubah dangdut, hanya menjadi penerus," paparnya menekankan.

Sukses manggung di berbagai kota, JDR pun menyambangi Yogyakarta. Tepat, Kamis (5/12/2019) lalu, JDR tampil di Liquid Cafe dalam 'Kulonuwun Jogja'. Saat itu, mereka juga merilis single berjudul 'Bojo Galak' yang diaransemen khas JDR. "Niatnya, kami itu ingin rilis single per bulan. Jadi pendengar tidak perlu menonton video, langsung saja dengarkan meski tak ada videonya," tandasnya. (R-1)

 

 

 

 

BERITA REKOMENDASI