Jeep Wisata Breksi Prioritaskan Keselamatan Wisatawan

Editor: KRjogja/Gus

PRAMBANAN (KRjogja.com) – Di Kabupaten Sleman ada dua objek wisata yang memanfaatkan Jeep sebagai salah satu data tarik wisatawan. Selain Lava Tour, ada di Taman Tebing Breksi Prambanan. 

Jika Lava Tour hadir pasca erupsi Gunung Merapi 2010 lalu, di Breksi baru April 2017 kemarin. Meski belum ada setahun, hampir 1 persen dari total pengunjung di Taman Tebing Breksi juga memanfaatkan Jeep wisata. Sepanjang libur akhir tahun mulai tanggal 23-31 Desember kemarin, total ada 787 trip Jeep atau sekitar 100 jeep perhari. 

Keunggulan dari Jeep wisata Breksi adalah keselamatan. Saat ini ada 51 armada yang tergabung dalam komunitas Shiva Plateau

Ada prosedur pemeriksaan yang dilakukan oleh 'Indonesian Offroad Federation' (IOF) Pengda DIY. Sebelum bergabung, semua kendaraan harus diperiksa oleh kelayakannya oleh IOF. Setiap tengah bulan, semua armada wajib dilakukan pengecekan berkala. 

"Itu sifatnya wajib. Bahkan Jeep saja tidak lolos saat dicek. Dan saya juga harus mengikuti aturan. Karena tujuan utama saat didirikan Jeep wisata ini adalah keselamatan," ujar salah satu pengurus Asosiasi Shiva Plateau Breksi, Arif Prihantoro, Selasa (9/1).

Untuk pengemudi, semuanya juga wajib memiliki SIM dengan usia minimal 20 tahun. Itu berdasarkan kesiapan psikologis mereka ketika membawa penumpang yang tentunya karakternya beragam. Termasuk wisatawan mancanegara juga.

Selain itu, semua pengemudi juga diwajibkan mengikuti 'safety ridding' dan pembekalan tentang pariwisata. Khususnya yang berada di sekitar Prambanan. "Mereka juga harus bisa menjadi 'guide'. Jadi sepanjang perjalanan mereka juga bisa menjelaskan kepada wisatawan, tentang sejarah dari lokasi wisata yang sedang disinggahi," kata Arif.

Rute yang dilalui Jeep wisata Breksi itu harus berbagi dengan masyarakat setempat. Untuk itu saat berpapasan dengan penduduk, kendaraannya harus menepi. Jadi tidak ada yang ugal-ugalan. "Kalau mau merasakan sensasi offroad ada rutenya sendiri. Karena kami sudah menyiapkan bentangan sepanjang 400 meter. Selebihnya harus berkendara sesuai ketentuan," tegasnya.

Sementara Ketua Pokdarwis Tlatar Seneng Desa Sambirejo Prambanan, Mujimin mengatakan, untuk komunitas Jeep wisata memang memiliki aturan sendiri. Namun mereka tidak boleh keluar dari aturan dari Pokdarwis sebagai induknya.

"Maka tak heran, kalau pengemudi Jeep juga bisa menjelaskan tentang potensi wisata yang ada di Desa Sambirejo. Dan hanya satu operator saja. Jika managementnya dibuat secara kebersamaan dan profesional, kami yakin ini pasti bisa berkembang. Tapi kalau ada yang menginginkan berdiri sendiri, tinggal menunggu waktu saja," ujar Mujimin. (Awh)

 

BERITA REKOMENDASI