Jumlah Pengajar TPA di Sleman Masih Kurang

Editor: KRjogja/Gus

SLEMAN, KRJOGJA.com – Kebutuhan pengajar Taman Pendidikan Alquran (TPA) di Kecamatan Moyudan Sleman belum terpenuhi optimal. Hal ini berdampak kurangnya kemampuan membaca Alquran terutama anak-anak lulusan SD di wilayah tersebut.

Direktur Panti Asuhan dan Pesantren Muhammadiyah (PAPM) Ashabul Kahfi Moyudan, M Ghufron Mustaqim mencontohkan di salah satu SMP setempat, 30 hingga 40 persen siswa yang masuk kelas I belum bisa membaca quran, sehingga harus belajar iqra terlebih dahulu. “Salah satu penyebabnya, TPA kurang maksimal mendidik anak-anak di kampung-kampung akibat kurangnya tenaga pengajar,” tutur Ghufron di sela acara pengajian Syawalan dan penggalangan dana bagi PAPM Ashabul Kahfi di halaman SMP Muhammadiyah I Moyudan, Sabtu (29/6/2019).

Ghufron menuturkan, PAPM Ashabul Kahfi berupaya mencetak santri dan kader pengajar TPA dengan kualifikasi profesional dan tersertifikasi. “Sudah ada enam santri yang tersertifikasi di Lembaga Pengembangan Tilawatil Quran (LPTQ) AMM Kotagede,” jelasnya.

Menurut Ghufron, jumlah TPA di Moyudan saat ini ada 33 unit dan pihaknya baru sanggup melayani kebutuhan pengajar di tiga TPA saja. Sementara untuk mendukung kebutuhan pengajar di 33 TPA tersebut idealnya butuh 120-150 orang tenaga pengajar. “Dengan jumlah TPA sebanyak itu paling tidak kami harus menyiapkan 120-150 santri untuk mendukung kebutuhan tenaga pengajar. Dan insya Allah dapat terwujud dalam tiga tahun lagi,” imbuhnya.

Ketua PDM Sleman Harjaka menyampaikan tausiyah Syawalan di PAPM Ashabul Kahfi. Foto-Istimewa

Untuk mewujudkan target tersebut, PAPM Ashabul Kahfi terlebih dahulu mesti membenahi infrastruktur pesantren. Saat ini asrama santri masih menempati rumah sewaan dengan kapasitas daya tampung sangat terbatas. “Kami sedang punya hajat besar membeli sebidang tanah seluas 661 meter persegi seharga Rp 850 juta yang akan dikembangkan menjadi gedung dan asrama terpadu. Kami mohon doa restu warga Muhammadiyah dan umat Islam Moyudan,” ucap Ghufron.

Pengajian Syawalan disampaikan Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Sleman Harjaka, sedangkan penggalangan dana siang itu terkumpul Rp 158.627.000. Dalam tausiyahnya Harjaka menyebut, orang yang telah kembali kepada fitrah semestinya dapat menjadi pribadi yang ikhlas, jujur, komunikatif, sinergis dan selalu bekerja keras. (Dev)

 

 

BERITA REKOMENDASI