Kalibuntung Sleman Bakal Bersolek, Ini Sebabnya

SLEMAN, KRJOGJA.com – Ikatan Arsitek Indonesia (IAI) DIY bekerjasama dengan Pemkab Sleman telah menyelesaikan proses penjurian sayembara desain penataan kawasan kumuh di bantaran Kalibuntung Dukuh Kutuduku, Desa Sinduadi, Kecamatan Mlati, Sleman. Empat desain terbaik ditentukan dari total 16 yang masuk ke meja panitia selama proses berlangsung. 

Ketua Bidang Sayembara IAI DIY Erlangga Winoto mengungkap empat tim telah dipilih sebagai juara setelah melewati tahap penjurian ketat. Keempat juara menurut dia mendapatkan uang masing-masing Rp 70 juta juara pertama, Rp 25 juta juara kedua, Rp 15 juta juara ketiga dan Rp 2,5 juta untuk harapan satu. 

“Empat juara sudah diputuskan yakni tim DIY yang diketuai Widodo Agung Nugroho IAI dari Yogyakarta. Kemudian juara dua diraih tim dari IAI Bandung “Water Urbanism” dengan ketua tim Basauli Umar Lubis, juara 3 tim “Future Team” yang di ketuai Peda Bayu Yunanto dari IAI Yogyakarta sementara untuk juara harapan “Beecons” dengan ketua tim Theo Rifai dari IAI Yogyakarta,” ungkapnya ketika dihubungi KRjogja.com Jumat (28/12/2018). 

Sementara terpisah Ketua IAI DIY Ahmad Syaifudin Mutaqie mengatakan hasil seleksi sayembara tersebut akan dijadikan sebagai rekomendasi penataan kawasan di bantaran Kali Buntung Dukuh Kutuduku, Desa Sinduadi, Kecamatan Mlati, Sleman. Menurut dia, dari keempat juara tersebut nantinya dinas terkait di Sleman bakal menyusun rekomendasi penataan Kalibuntung agar tak lagi menjadi daerah kumuh di Kabupaten Sleman. 

“Nanti Dinas DPU-PKP Kabupaten Sleman bakal menggunakan keempat juara ini untuk diformulasikan lagi menjadi rekomendasi penataan. Kriteria penilaian yang meliputi originalitas karya desain termasuk memperhatikan tujuh kriteria kekumuhan kotaku (Kotaku), yaitu: ekologi, edukasi, ekonomi, teknologi, kebudayaan, konservasi, kesehatan, dan sosial-kemasyarakatan dirasa sudah komplit dan tepat diaplikasikan,” terangnya. 

Kabupaten Sleman sendiri masih memiliki pekerjaan rumah untuk menata kawasam Kalibuntung. Pasalnya, penggal Karangwaru yang masuk wilayah Kota Yogyakarta telah terlebih dahulu ditata sehingga kesan jomplang masih terlihat di lapangan. (Fxh)

BERITA REKOMENDASI