Kantor Bupati Sleman Dibangun Dari Desain Pemenang Sayembara, Bakal Tampil Merakyat?

SLEMAN, KRJOGJA.com – Sayembara desain kompleks Kantor Bupati Sleman yang bekerjasama dengan Ikatan Arsitektur Indonesia (IAI) DIY telah mencapai tahap akhir. Selasa (13/11/2018) lima finalis dalam sayembara tersebut mempresentasikan karya secara langsung di hadapan Bupati Sleman Sri Purnomo. 

Ketua IAI DIY Ahmad Syaifuddin Muttaqi mengatakan pihaknya memang mendorong pemilik gedung layanan publik di DIY agar menerapkan sistem sayembara ketika hendak membangun atau renovasi. Hal tersebut menurut dia menjadi penting agar gedung layanan publik memiliki perancangan maksimal yang memang dibuat oleh orang-orang berkompeten. 

“Kami menyadari bahwa karya bangunan kantor pemerintah kok begitu-begitu saja, sehingga perlu ada ide bagus. Datangnya dari mana, ya melalui sayembara arsitek seperti ini. Makin banyak peserta dengan juri yang bagus juga maka hasilnya tentu lebih maksimal,” ungkapnya pada wartawan usai penjurian lima besar tersebut di kantor Bupati Sleman. 

Pada awal penyelenggaraan lomba tepatnya bulan September 2018 lalu, panitia mendapatkan total 54 desain masuk. Desain-desain tersebut kemudian dikurasi hingga akhirnya memunculkan lima finalis yang mempresentasikan langsung baik power point maupun maket di hadapan Sri Purnomo. 

“Pak Bupati langsung hadir untuk melihat pemaparan dari lima finalis. Semua hasil desain ini akan mengalami modifikasi tetapi minor menyesuaikan pada misalnya harga, biaya dan hal lainnya. Namun begitu tampaknya semua hasil adalah terbaik karena sudah menerapkan falsafah green building, hemat energi dan tahan gempa,” sambungnya. 

Sementara salah satu finalis, Haidar Rifqi dari Andi Rahman Arsitek Surabaya mengaku mengusung konsep unik untuk pra rancangan Gedung Kantor Bupati Sleman. Ruang-ruang dalam bangunan tiga lapis tersebut sengaja dibuat dengan desain yang lebih terbuka agar masyarakat bisa melihat kinerja pemerintah daerahnya. 

“Kita ingin buat bangunan yang berbeda, diambil dari konsep atap rumah kampung, ini mungkin aneh karena biasanya pakai joglo atau limasan. Di sini kita ibaratkan memperkuat bahwa gedung publik itu merakyat dan pemerintah daerah mengabdi untuk rakyat,” ungkap pria yang juga lulusan arsitektur UGM ini. (Fxh)

BERITA REKOMENDASI