Kelompok Desa Budaya Sleman Gelar Festival

Editor: KRjogja/Gus

SLEMAN, KRjogja.com – 12 desa budaya di Kabupaten Sleman berkumpul di Lapangan Desa Pokoh, Kecamatan Wedomartani. Dalam rangka evaluasi pendamping desa budaya sekaligus menampilkan aneka kesenian dan kerajinan dari setiap desa.

Bersamaan dengan evaluasi pendamping juga di laksanakan acara merti Desa Wedomertani, sehingga ada serangkaian acara yang sudah berlangsung selama satu minggu. Penampilan yang disajikan di panggung utamapun bermacam – macam dari setiap desa, mulai dari upacara wiwitan, upacara saparan, hingga pertunjukan cerita rakyat yang diperankan oleh warga desa.

"Harapan saya itu desa budaya semakin banyak. Dengan semakin banyak desa budaya, pelestarian kesenian dan pengembangan kesenian tradisional semakin mengembang. Karena di Sleman ada 96 desa, desa budayanya baru 12. Masih kecil sekali to." Ungkap Hadi Mulyono selaku tim monitoring pendamping desa budaya kepada KRJogja.com.

Selain berbagai penampilan menarik yang dipersiapkan dengan baik oleh warga dari seriap desa, di sisi kanan dan kiri panggung utama juga tersedia stand makanan maupun kerajinan dari setiap desa. Stand yang disediakan panitia di isi oleh berbagai macam produk buatan warga desa budaya.

Salah satunya adalah stand dari Desa Bangunkerto, Turi yang menyediakan berbagai macam produk buatan masyarakat desa setempat. Desa Bangunkerto sendiri terdiri dari beberapa dusun dan setiap dusun memiliki potensinya masing – masing. Mulai dari aneka camilan olahan salak, kerajinan tas dan hiasan meja dari limbah plastik yang di daur ulang, kerajinan topeng untuk tari tradisional, kain batik kombinasi tulis dan cetak, juga kerajinan sangkar burung dan lukisan.

Ibu Maryani selaku peserta festival yang bertugas menjaga stand dari Desa Bangunkerto mengatakan harapan kedepannya untuk desa budaya. Seperti yang ia katakan kepada reporter KRJogja.com, " Mungkin bisa ditambahi pendampingan khusus untuk yang kerajinan – kerajinan kita masih membutuhkan untuk sekolah lagi gitu. "

Semangat masyarakat dari setiap desa budaya dalam mengikuti festival budaya ini dapat dilihat dari kreatifitas
mereka dalam mengenakan seragam sebagai identitas dari masing – masing desa. Kebanyakan desa memilih mengenakan sorjan dan kain jarik dengan berbagai varian warna dan motif kain jarik. Untuk peserta pria bahkan melengkapi penampilan mereka dengan menggunakan blangkon dan keris. (Mutiara Chika/ Magang UIN)

 

BERITA REKOMENDASI