Keluarga Jadi Pendidik Utama dan Pertama Anak

Editor: KRjogja/Gus

SLEMAN, KRJOGJA.com – Perkembangan teknologi saat ini secara tidak langsung ikut membentuk karakter anak. Ibarat dua sisi mata pisau, teknologi memiliki dampak positif dan negatif terhadap generasi muda saat ini.

Dampak yang negatif antara lain terbentuknya pola hidup yang konsumtif, sifat individualistik, rendahnya kepedulian terhadap sesama hingga daya hidup yang mengarah pada budaya asing. Baik itu permainan, film, musik, kuliner atau lainnya yang terkadang tidak selaras dengan budaya asli Indonesia.

"Sekarang ini juga ada kecenderungan penggunaan Bahasa Indonesia maupun bahasa daerah yang benar mulai menurun. Untuk itu melalui momentum hari anak ini bisa mendorong keluarga bisa menjadi lembaga pendidik anak yang utama dan pertama. Termasuk dalam memberikan perlindungan terhadap anak," ujar Wakil Gubernur DIY Paku Alam X saat membacakan sambutan Gubernur DIY dalam puncak peringatan Hari Anak Nasional (HAN) 2019 DIY dipusatkan di The Harbour Theater Jogja Bay Waterpark, Depok Sleman, Kamis (8/8).

Acara yang dihadiri hampir 1.000 anak dari seluruh DIY ini diisi dengan penampilkan seni dari anak-anak usia TK hingga SD. Termasuk dari Anak Berkebutuhan Khusus (ABK). Selain itu juga ada launcing Telepon Sahabat Anak dan Keluarga (TeSAGa) DIY, pengukuhan pengurus Forum Anak DIY serta penandatangan kesepakatan tentang Perlindungan Saksi dan Korban Kekerasan bersama Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban (LPSK).

Wagub mengungkapkan, peringatan hari anak ini dimaknai sebagai bentuk kepedulian seluruh bangsa agar anak dapat tumbuh berkembang secara optimal. Secara nasional tema HAN tahun ini adalah Peran Keluarga Dalam Perlindungan Anak dan diturunkan menjadi 'Hamemayu Sesanti Ajining Pertiwi' atau Membangun Identitas dan Karakter Anak untuk Berbangsa dan Bertanah Air Indonesia' untuk tema di DIY.

"Tema ini relevan dengan situgasi saat ini. Dimana perkembangan teknologi informasi harus bisa disikapi dengan bijak," ungkapnya.

Dalam kesempatan tersebut juga dibacakan Suara Anak DIY yang dibacakan perwakilan dari FAD DIY. Setidaknya ada sepuluh harapan yang dibacakan. Antara lain, pemerintah harap memperhatikan kejelasan identitas anak hasil Kehamilan Tidak Diinginkan (KTD) dari penghakiman masyarakat hingga adanya pemerataan sarana dan prasarana kesehatan serta pemenuhan minat bakal yang memadai dan dapat diakses bagi Anak Berkebutuhan Khusus (ABK). (Awh)

 

 

BERITA REKOMENDASI