Kemenparekraf Kembangkan 16 Destinasi MICE

Editor: Ivan Aditya

SLEMAN, KRJOGJA.com – Industri meeting, incentive, convention and exhibition (MICE) di tanah air benar-benar terpuruk dan menderita terdampak pandemi Covid-19. Untuk itu, Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif/Badan Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf/Baparekraf) telah menyiapkan berbagai strategi untuk membangkitkan kembali industri MICE yang disesuaikan dengan potensi atau kekuatan kelokalannya.

Direktur Wisata Pertemuan, Insentif, Konvensi dan Pameran (MICE) Kemenparekraf/Baparekraf Iyung Masruroh menyampaikan Jakarta dan Bali secara rangking internasional merupakan destinasi MICE utama di Indonesia. Namun destinasi MICE di Indonesia yang dikembangkan bukan hanya Jakarta dan Bali, justru ada 16 destinasi MICE yang dikembangkan dan dibedakan dari skala meetingnya.

“Destinasi MICE tanah air ini dibedakan dari skala meetingnya dengan pertimbangan infrastruktur, venue dan kesiapan sarana dan prasarana (sarpras) lainnya. Jadi ada yang bisa untuk pertemuan lokal ya untuk lokal dan apabila untuk pertemuan berskala internasional akan dilihat dari scope dan peserta maksimal, sehingga yang masuk rangking internasional terutama baru Bali untuk convention dan Jakarta untuk exhibition,” tutur Masruroh usai membuka Sosialisasi Panduan Cleanliness, Healthy, Safety, and Environmental Sustainability (CHSE) Penyelenggaraan Kegiatan MICE di Pendopo Agung Royal Ambarrukmo Yogyakarta, Kamis (24/09/2020).

Masruroh mengungkapkan pihaknya tengah mengembangkan dan menyusun strategi wisata MICE di DIY yang disesuaikan dengan kekuatan kelokalannya yaitu budaya atau culture dan pendidikan atau education. Sehingga DIY berpotensi untuk wisata MICE nasional dan internasional yang terkait budaya atau pendidikan.

“Satu per satu kita cari kekuatan dari destinasi tersebut. Kita tahu industri pariwisata sangat menderita selama pandemi Covid-19 ini karena industri kita itu yang core-nya adalah perjalanan dan kumpulnya, jika tidak ada perjalanan dan pertemuan ya sudah pasti terpuruk sekali,” tandasnya.

Kemenparekraf/Baparekraf telah mengarahkan meeting pemerintah di hotel maupun destinasi MICE, tetapi untuk convention dan pameran tidak bisa dipaksakan. Apalagi jika pesertanya dari luar negeri karena border belum dibuka serta banyak daerah yang masih belum membolehkan adanya kumpul-kumpul.

“Jadi kami lebih menyiapkan destinasi dan industri MICE di tanah air sebagai bargaining kepada Pemerintah bahas kita sudah siap sesuai kebijakan baru supaya jangan sampai terjadi klaster baru Covid-19. Jalan atau tidaknya industri ini tergantung Gugus Tugas masing-masing daerah karena bersifat fluktuatif. DIY sudah siap dari sisi industrinya karena sudah memberikan simulasi kepada industri MICE,” ungkapnya.

Kepala Dinas Pariwisata (Dispar) DIY Singgih Raharjo mengaku industri MICE di DIY sudah siap di masa pandemi Covid-19 ini karena salah satu penggerak perekonomian DIY selama ini. MICE tetap bisa jalan terus karena pihaknya telah menyusun protokol kesehatan MICE itu sendiri.

“Untuk venue yang rata-rata menggunakan hotel dan cukup bagus menerapkan protokol kesehatan CHSE. Sehingga kami tetap mendorong wisata MICE dengan protokol yang telat dan standarisasi dari hotel sendiri yang memang berkaitan dengan kapasitas yang harus dijaga supaya bisa mengendalikan potensi kerumunan,” tandas Singgih.

Singgih menjelaskan pihaknya juga harus melihat kondisi kasus positif Covid-19 di suatu daerah jika trennya tinggi maka akan sedikit di rem sambil mengganggu situasi kondusif serta kapasitas tetap harus disesuaikan. Perhotelan di DIY yang sudah terverifikasi siap menerima wisata MICE karena mereka sudah ada protokol kesehatan CHSE, bahkan sudah dilakukan simulasi uji coba sebelumnya demi keamanan, kesehatan dan kenyamanan bersama. (Ira)

BERITA REKOMENDASI