Kerajinan Drum Bekas Sekarsuli yang ‘Ikonik’

Editor: KRjogja/Gus

SLEMAN (KRjogja.com) – Ada pemandangan menarik saat melintasi jalan wonosari kilometer 6 yogyakarta. Disepanjang jalan kiri dan kanan banyak dijumpai perajin kerajinan alat rumah tangga yang berasal dari drum bekas.

Ya…tepatnya didusun Sekarsuli, Berbah, Sleman ini terdapat sentra produksi beragam barang kerajinan rumah tangga seperti tong sampah, ember, cerek, gayung hingga mustaka masjid. barang kerajinan ini diolah dari drum bekas, seng dan juga aluminium

Tidak diketahui secara pasti mulai kapan sentra produksi olahan barang bekas ini mulai berdiri. namun wilayah ini menjadi ikon sendiri sebagai sentra barang barang klitikan yang terbuat dari drum bekas.  Namanya juga barang bekas atau olahan dari barang bekas  maka harga barang kerajinan ini juga relatif murah. tidak ada patokan harga khusus, sehingga bagi yang pandai menawar akan mendapatkan harga yang murah.

Melalui industri ini tidak dipungkiri, telah menciptakan lapangan kerja dan pendapatan bagi masyarakat. Sekarsuli juga menjadi salah satu alternatif lokasi untuk mendapatkan baranng rumah tangga dengan harga bersahabat.

Ibu kunarsih adalah satu diantara puluhan pedagang sekaligus perajin drum bekas di Sekarsuli. bersama suaminya,  ibu kunarsih saat ini masih produktif menghasilkan barang-barang rumah tangga dari drum bekas. Selain melayani pesanan ibu kunarsih mengkhususkan produksi barang kerajinannya pada trend masyarakat yang terjadi.

Keahlian membuat kerajinan drum bekas ini diperoleh secara otodidak. awalnya suaminya bekerja ditempat lain. kemudian setelah merasa mampu akhirnya memutuskan mandiri membuka usaha di wilayah Sekarsuli. “Soal sejarah pasti daerah Sekarsuli menjadi sentra kerajinan belum diketahui, namun sejak saya kecil memang bisnis ini tumbuh subur di wilayah ini. Sempat juga mengalami kejayaan pada era 90 an,” katanya kepada KRjogja.com belum lama ini.

Ibu kunarsih menyampaikan, kendala produksi kerajinan ini adalah bahan baku karena harus didatangkan dari klaten dan jakarta. Saat kekurangan bahan baku dirinya harus libur produksi.

Demi menjaga kualitas ibu kunar sih tidak mau menggunakan barang lain yang lebih murah. ditambah lagi dengan kenaikan dollar saat ini, produksi menjadi lesu karena bahan baku ikut melanjak harganya.

Selain memproduksi barang baru, ibu kunarsih dan keluarga juga menerima reparasi barang yang rusak. Dengan alasan berhemat, masyarakat lebih memilih untuk memperbaiki daripada harus membeli baru. “Ya masuknya barang murah dari china memang banyak mempengaruhi permintaan disini. Namun selain penjualan kami juga cukup terbantu dengan jasa reparasi,” pungkasnya. (Git/ngip)

 

BERITA REKOMENDASI