Kisah Bikin Sumur Keluar Darah

Editor: Ivan Aditya

Lima pusaka tersebut mengandung makna filosofis. Anggeman bermakna orang hidup harus punya agama. Alquran sebagai acuan atau dasar. Bongkahan mustaka masjid simbol menjalankan perintah Tuhan. Kopiah berfilosofi berpikir hati-hati, tidak ngawur. Setelah bisa memenuhi kebutuhan keluarga, disarankan membantu sesama, yang disimbolkan tongkat. Memberi tongkat penuntun jalan pada yang membutuhkan.

“Bila berpedoman itu (lima pusaka filosofis), dan semua berada dalam satu rumah, hidup akan mapan,” ujar Juritno.

Tahlilan mendoakan Ki Ageng Wonolelo berlangsung khidmat. Tak hanya manusia, kegiatan tersebut juga diikuti mahkluk lain. “Kemarin ada banyak orang berpakaian putih, tinggi, wangi, keren, berwibawa. Ada yang duduk, ada yang berdiri. Begitu mendekati saya, saya nunduk, tidak berani memandang. Bapak juga tahu,” kata Triska, putri Juritno. Triska sejak kecil dikarunia kepekaan melihat yang tak bisa terlihat manusia.

Pengakuan Triska dikuatkan Ninda, penari yang tinggal di Jalan Wates Yogyakarta, yang ikut tahlilan. “Iya, benar. Saya juga melihat. Saya juga nunduk saja,” terang gadis indigo itu.

Ki Ageng Wonolelo semasa hidup dikenal sebagai penyebar agama Islam. Wajar bila banyak yang mendoakan. (Lat)

BERITA REKOMENDASI