Kisah Pasukan ‘Sapu Jagad’ Covid-19 PMI Sleman, Antara Takut dan Komitmen Kemanusiaan

Editor: KRjogja/Gus

Pertanyaan-pertanyaan itu hampir pasti muncul di kepala relawan yang bertugas setiap harinya. “Informasi rata-rata masuk pukul 19.00, di mana saat itu tanda kami harus bersiap-siap, mengenakan APD lengkap, lalu bergegas menjemput peti jenazah di rumah sakit, biasanya dari RSUP Dr Sardjito, tempat pemulasaraan jenazah,” kisah Septiyadi pada KRjogja.com, Sabtu (25/4/2020).

Delapan kali sudah tim bekerja, memakamkan pasien di beberapa lokasi berbeda, dengan standar prosedur ketat penanganan Covid-19. Tujuh kali pemakaman dilakukan di malam hari, tengah malam bahkan dini hari. Lalu sisanya satu pada siang hari yang ternyata baru dijalani tim tepat Sabtu (25/4/2020) hari ini.

Koordinasi dilakukan dengan juru kunci desa asal pasien meninggal dunia. Masyarakat yang mempersiapkan liang lahat, dan beruntungnya tak pernah ada penolakan, bahkan warga begitu ‘nyengkuyung’ dengan penuh kesadaran.

“Biasanya liang lahat makam siap dalam waktu tiga jam dan kami akan menjemput jenazah dengan pakaian APD lengkap, dan tim yang punya tugas masing-masing. Tim hanya menurunkan jenazah, menutup 2/3 dari makam selanjutnya di teruskan oleh masyarakat. Setiap melakukan tugas tim di dampingi oleh 1 spraying yang berfungsi untuk mendekontaminasi crew setelah dan sebelum bertugas,” ungkapnya.

BERITA REKOMENDASI