Kisah Pasukan ‘Sapu Jagad’ Covid-19 PMI Sleman, Antara Takut dan Komitmen Kemanusiaan

Editor: KRjogja/Gus

Pada pemakaman siang hari, protokol akan berubah karena tim berkejaran dengan waktu. Personil yang mengenakan APD lengkap hanya memiliki waktu 90 menit saja berada di luar dengan cuaca panas karena memiliki resiko hipoksida dan dehidrasi.

“Siang tadi, kami hanya punya waktu 30 menit untuk memakamkan, karena sebelumnya harus menanti penyiapan jenazah lalu dihitung juga perjalanan pulang untuk dekontaminasi, karena tak boleh melepas satupun alat sebelum didekontaminasi. Kami harus berkejaran dengan waktu. Saya yang sempat puasa, akhirnya tidak bisa melanjutkan karena sempat terserang dehidrasi ringan,” lanjut dia.

Resiko pada pasien meninggal memang jauh lebih kecil karena para ahli menilai virus akan mati jika inang (manusia) meninggal dunia. Namun, rasa was-was tetap menghinggapi para relawan yang harus berhadapan langsung dengan situasi di lapangan.

“Kami juga punya kewajiban melakukan disinfeksi ke rumah pasien positif, kami menyadari betul ada resiko yang dihadapi. Kami berinteraksi langsung dan jelas punya kemungkinan tertular lebih besar. Tapi, ini panggilan hati kami. Kami harus laksanakan sebagai karena sudah berkomitmen demi kemanusiaan,” ungkapnya lagi. (Fxh)

 

BERITA REKOMENDASI