Korban Penyerangan St Lidwina Maafkan Pelaku Suliono

SLEMAN, KRJOGJA.com – Suasana yang sebenarnya canggung sempat terlihat saat wartawan mengobrol bersama Budiono, salah satu korban penyerangan gereja St Lidwina Bedog Trihanggo Gamping Sleman 11 Februari 2018 yang dihadirkan saat reka ulang kejahatan kekerasan oleh pelaku Suliono Kamis (19/4/2018). Bekas luka bacok masih terlihat di kepala bagian belakang Budiono yang kini tak lagi bisa ditumbuhi rambut.

Budiono yang saat kejadian mengikuti misa Minggu pagi berada di bagian luar bangunan utama gereja. Ia memperagakan dua adegan yakni ke-30 dan 31 dalam rekonstruksi bersama pelaku Suliono yang dihadirkan dari Jakarta.

Budiono bahkan sempat berpapasan kembali dengan pelaku yang dua bulan lalu membuatnya terluka di bagian kepala dan dirawat di rumah sakit. Meski demikian, Budiono mengaku tidak menaruh dendam pada pelaku yang kini ditahan oleh Densus 88 Anti Teror.

“Saya sudah diberitahu kuasa hukum gereja sejak beberapa hari lalu dan saya bilang tidak keberatan untuk hadir langsung. Saya tidak ada dendam dengan dia (Suliono), dan saya sudah memaafkan,” ungkapnya pada wartawan.

Budiono bahkan mengaku tak mengalami trauma dengan kejadian dua bulan silam. “Saya tidak trauma sama sekali namun Pak Yohanes (Rianto) tadi masih terlihat trauma, beliau mengalami luka di bagian kepala depan,” sambungnya lagi.

Sementara tim hukum Keuskupan Agung Semarang Suki Ratnasari mengatakan saat ini pihaknya masih menunggu agenda sidang di pengadilan. Setelah reka ulang dan melengkapi Berita Acara Pemeriksaan (BAP) maka pihaknya tinggal menunggu kasus tersebut P21.

“Nanti sidangnya di Jakarta karena dia (pelaku) di tahan oleh Densus di Jakarta. Tinggal menunggu sidang saja nanti di Jakarta,” ungkapnya usai reka ulang.

Pelaku Suliono alias Abdul Hadi alias Nang Ibrahim Al Maduri Abdullah Ibrahim Al Jogjawi sendiri menjalani lebih dari 50 adegan dalam reka ulang di sekitar dan dalam wilayah Gereja St Lidwina Bedog. Dietahui sebelum kejadian Suliono sempat tidur di Mushola, diusir warga, menjual handphone dan membeli pedang hingga tidur di gubug tengah sawah sebelum akhirnya masuk melakukan aksi kekerasan. (Fxh)

 

BERITA REKOMENDASI