Krisis Air Mengancam, UGM Buka Sekolah Sungai

Editor: KRjogja/Gus

SLEMAN (KRjogja.com) – Bencana alam hidrometeorologi yang terjadi di Indonesia, 80 persen disebabkan karena rusaknya ekosistem sungai. Bencana alam tersebut didominasi banjir bandang, kekeringan dan tanah longsor. Untuk mencegahnya, diperlukan kesadaran masyarakat terutama yang tinggal di sepanjang aliran sungai, untuk melakukan upaya-upaya pengurangan risiko bencana.

 

Direktur Pengurangan Risiko Bencana Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Lilik Kurniawan ST MSi mengatakan, permasalahan sungai bukanlah milik satu wilayah saja melainkan keterlibatan banyak wilayah dari hulu hingga hilir. Banyak kasus yang hulu sungainya bagus, namun di hilir ekosistemnya sudah rusak parah, contohnya Sungai Bengawan Solo.

 

Menurutnya kondisi hulu Sungai Bengawan Solo di Kabupaten Klaten masih terjaga, namun mulai rusak saat masuk kawasan industri di Sukoharjo dan Surakarta. Akibatnya saat musim hujan, Kabupaten Bojonegoro di hilir selalu langganan banjir. "Karena ekosistemnya rusak parah, banjir di Bojonegoro akibat meluapnya Sungai Bengawan Solo bisa berhari-hari," terang Lilik kepada wartawan di sela Pembekalan Fasilitator Sekolah Sungai 'Gerakan Pengurangan Risiko Bencana #2' di Ruang Seminar Sekolah Vokasi UGM, Senin (22/8/2016).

Hal yang sama juga selalu dialami daerah Baleendah Kabupaten Bandung yang selalu langganan banjir akibat meluapnya Sungai Citarum. Untuk meningkatkan kesadaran masyarakat akan pentingnya sungai, BNPB menginisiasi Gerakan Pengurangan Risiko Bencana dengan mengundang 30 tokoh (relawan) sungai untuk mengikuti Sekolah Sungai. Mereka berasal dari 15 kabupaten/kota yang dilalui Sungai Citarum.

Wakil Rektor Bidang Riset dan Pengabdian Masyarakat sekaligus Ketua Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat UGM Prof Dr Suratman mengungkapkan Sekolah Sungai merupakan sekolah pertama di dunia dan mendahului 17 program Sustainable Development Goals (SDGs).

Penyelenggaraan Sekolah Sungai sudah sangat mendesak, sebab Indonesia telah memasuki ancaman krisis air yang berdampak pada krisis pangan, krisis energi dan lain-lain. "Sekolah ini sangat tepat karena lahir saat Indonesia menghadapi ancaman krisis air. Karena itu untuk mewujudkannya perlu memperhatikan Panca Daya Kali (sungai) Istimewa, yakni sungai itu harus urip, waras, wasis, digdaya dan rahayu," katanya. (R-2)

BERITA REKOMENDASI