Kustomfest ‘Unrestricted’, Menikmati Karya Kustom dari Sudut Pandang Berbeda

Editor: Ivan Aditya

SLEMAN, KRJOGJA.com – Gelaran Kustomfest 2020 akhirnya digelar secara luring 15-31 Desember di Jogja National Museum (JNM). Tahun ini di tengah pandemi, penyelenggara akan menyajikan karya kustom dari sudut pandang berbeda.

Lulut Wahyudi, Direktur Kustomfest mengungkap keputusan menggelar event di akhir tahun muncul setelah melihat antusiasme luar biasa dari para builder yang ternyata tetap berkarya di tengah pandemi. Covid-19 menurut Lulut tak menghalangi minat berkarya para builder yang kemudian membuat Kustomfest harus tetap diselenggarakan.

“Tahun ini event dilaksanakan dengan sangat berbeda. Namun, kami di sini ingin membawa pengalaman berbeda, bagaimana karya kustom ditempatkan selayaknya karya seni. Kita atur sedemikian rupa, bagaimana orang menikmati karya dari sudut berbeda. Pandemi tidak membuat builder berhenti berkarya, dan tidak mengalahkan kami semua,” ungkap Lulut dalam sesi konferensi pers di Pendopo Ambarrukmo, Selasa (15/12/2020) malam.

Lulut menegaskan, event yang sedianya dimulai sejak 15 Desember ini sudah mendapat persetujuan dari Gugus Tugas Covid-19 Kota Yogyakarta yang melakukan inspeksi langsung di JNM. Lulut pun meyakini hingga 31 Desember mendatang, Kustomfest akan menjadi event yang akan menjadi percontohan penerapan protokol kesehatan kedepan.

“Kami sungguh tak pernah membayangkan hal ini bisa terjadi, namun ternyata jalan dibukakan. Hampir semua event Kustom dunia postpone. Kami berusaha carikan jalan, karena ini perlawanan kita pada Covid. Gugus tugas sudah assasment, dan diapprove. Apa yang dilakukan sudah sesuai protokol kesehatan dan harapannya bisa aman hingga selesai nanti,” sambung dia.

Kustomfest kali ini menghadirkan 85 karya baik motor dan mobil yang akan dipamerkan secara lebih dekat bagi pengunjung. Jumlah tersebut disebut Lulut melalui seleksi ketat karena keterbatasan venue dengan konsep berbeda.

“Saya susah menceritakan, tapi beberapa builder masih terus menghubungi untuk mengirimkan karya, tapi sudah tidak bisa lagi. Yang jelas, ini gelaran Kustomfest terbaik menurut saya,” lanjut Lulut.

Tahun ini pula menurut Lulut tidak ada lucky draw di Kustomfest karena sengaja ingin merayakan dalam keheningan di tengah pandemi. Secara khusus poster Kustomfest pun dibuat sebagai wujud apresiasi terhadap tenaga kesehatan yang bekerja luar biasa di seluruh dunia.

Heri Pemad, Managing Director Art Kustomfest 2020 yang juga direktur Artjog mengaku sangat antusias ketika diminta menggarap event tersebut. Pemad membuat event Kustomfest yang selalu identik dengan hingar bingar dan berisik, kali ini dibuat lebih khusyuk untuk pengunjung.

“Sejak awal pandemi kami bertekad berbuat sesuatu, sebagai pelopor pemulihan ekonomi di DIY melalui gerakan kreatif. Masak tidak ada solusi bagi jamaah kustom. Festival ini biasanya paling berisik, seperti apa di kondisi yang serba silent ini. Banyak masukan, kustom ini lebih dari karya otomotif, lebih pada sebuah masterpiece. Kami coba hadirkan dengan cara pandang berbeda, dan kali ini kami bisa buat lebih intim, eksklusif bisa dekat dengan karya,” ungkap Pemad.

Pemad mengaku belajar banyak hal untuk menata tampilan Kustomfest dalam ruang-ruang pamer yang biasanya memajang seni patung atau lukisan. Pengunjung pun dibatasi hanya 30 orang dengan empat sesi setiap harinya dengan harga tiket Rp 80 ribu dibeli secara online.

“Harapan kami, pengunjung bisa menikmati dengan lebih detail. Kami tata sedemikian rupa tata letak, lighting dan mudah-mudahan bisa membawa pengunjung lebih intim dengan karya,” ungkapnya lagi.

Sementara, Agus Trimurjanto, Direktur Pemasaran Bank BPD DIY menjelaskan pihaknya mensuport gelaran Kustomfest yang dinilai menjadi salah satu event andalan DIY. “Kami harus suport, bagaimana DIY bisa berkembang secara ekonomi, salah satunya industri kreatif begitu terasa menopang ekonomi DIY dan Kustomfest jadi salah satunya,” pungkas Agus. (Fxh)

BERITA REKOMENDASI