‘Lembah Hidroponik’ Hasilkan Sayuran Sehat

Editor: Ivan Aditya

NAMANYA ‘Lembah Hidroponik’ meski berada di tanah yang rata, berada atau dekat dengan pemukiman penduduk kampung. Disitulah Dwi Astuti Setyaningrum membuka usaha bertanam hidroponik, di Padukuhan Teguhan RT 03/RW 08, Kalitirto, Berbah, Sleman sejak bulan Mei 2020. Dwi Astuti merupakan salah satu member komunitas Sinergi Usaha Nusantara (SUN), sebuah komunitas yang mewadahi Usaha Menengah Kecil Mikro (UMKM) di DIY.

Dengan modal awal Rp. 15 juta yang dipersiapkan untuk bahan-bahan hidroponik, seperti galvalum, baja ringan, pipa, plastik dan benih sayuran. Karena pandemi Covid-19, semua usaha terhenti maka dicarilah kegiatan lain dengan membersihkan kebun samping rumah yang selama ini tidak pernah dilirik atau dimanfaatkan. Ternyata pandemi membawa hikmah istimewa, berkat ketekunannya berhasil memanfaatkan lahan kebun dan peralatan yang selama ini tidak digunakan.

“Saya memang suka bercocoktanam, terpikir kalau untuk pengembangan hidroponik sangat cocog dan strategis,” ungkap Dwi Astuti di rumahnya.

Setelah semua peralatan tersedia, maka dibuatlah taman sayuran hidroponik, ada kobis, kangkung, bayam brokoli, kol, selada kroting dan selada pagoda dan lain-lainnya yang kemudian dinamakan ‘Lembah Hidroponik’ atau sumber sayuran organik yang sehat dan menyehatkan.

Beberapa bulan kemudian hasilnya bisa dinikmati, seperti kangkung, selada dan lain sebagainya dan mendapat respek baik dari masyarakat sekitar. Kegiatan bertanam hidroponik pun terus berkembang, bahkan mulailah bakul atau pedagang sayuran mampir dan kulakan sayuran untuk kemudian dijual lagi di pasaran.

Harga produk sayuran pun menyesesuaikan kebutuhan, bisa per tangkai, per pak, atau perkilo, saat ini omzet per bulan rata-rata Rp. 3 juta. ‘Lembah Hidroponik’ juga melayani pembelian lewat medsos atau online, bisa langsung di tempat bagi yang sekitar DIY.

Menurut Dwi Astuti, keunggulan produknya yakni bebas pestisida, sayuran chrispy, tahan lama, tetap segar, kandungan gizi lebih baik. Sayuran muda, panen lebih cepat dibanding sayuran konvensional. Di tempat ini pula dijual media, benih, nutrisi dan bibit sayuran hidroponik. Untuk belajar semai, ada jadwal seminggu sekali.

Yang terang sangat bermanfaat, karena sayuran rumahan yang mudah diolah, bisa di tomis, ca, atau dimasak campur sayuran yang lain. Bisa juga dibuat jus, lalapan, salad, dimana banyak bermanfaat untuk kesehatan yakni diet atau pengobatan.

Dwi Astuti punya target yang ingin dicapai yakni, agar masyarakat semakin sadar makan sayur hidroponik. Disamping itu juga mampu menciptakan wisata hidroponik, edukasi untuk pra sekolah hingga lansia. (Sutopo Sgh)

BERITA REKOMENDASI