Lokasi Penambangan Lereng Dibuat Terasering

Editor: Ivan Aditya

SLEMAN, KRJOGJA.com – Kecelakaan kerja di area penambangan pasir di lereng Merapi sudah beberapa kali terjadi. Pihak berwajib maupun dari kecamatan sudah sering kali mengimbau agar para penambang mengutamakan keselamatan mereka. Namun demi mendapat pasir banyak, masih ada para penambang yang tidak memperhitungkan risiko tebing longsor yang bisa kapan saja terjadi.

Camat Cangkringan Suparmono menerangkan, usai kecelakaan kerja yang terjadi Kamis (27/08/2020) lalu, ia langsung menyambangi area-area penambangan agar mereka lebih hati-hati saat bekerja. Sebelum kejadian, pihaknya maupun Babinsa dan Bhabinkamtibmas tiap tiga hari sekali juga menyambangi para pekerja di penambangan agar berhati-hati saat bekerja.

”Kami sudah sering mengimbau mereka agar berhati-hati. Sebenarnya area penambangan bisa dibuat terasering agar tidak tegak lurus. Hal ini bisa untuk memperkecil risiko longsor,” ungkap Suparmono.

Suparmono mengaku, satu dua penambang sudah ada yang menerapkan anjuran itu. Tapi masih banyak juga yang mengindahkan imbauan yang diberikan petugas. Karena jika area penambangan dibuat terasering atau trap-trapan, pasir yang diperoleh lebih sedikit.

”Kalau dibuat trap kan lebih aman. Tapi mereka lebih memilih dapat pasir banyak,” ungkap Suparmono.

Ditambahkan, jumlah area penambangan di Cangkringan cukup banyak. Tapi tidak punya data pasti berapa jumlah titik-titik penambangan. Penambangan paling banyak berada di Desa Umbulharjo dengan lokasi penambangan di lahan bukan di sungai. Sebagian besar para penambang juga bukan warga setempat.

”Kalau di Glagaharjo biasanya penambang dari Klaten, Gunungkidul. Ada juga yang dari Temanggung dan Magelang. Tap kebanyakan dari luar,” bebernya.

Suparmono berharap, agar kejadian serupa tak terjadi lagi. Dalam jangka panjang, mungkin dibuat aturan. ”Tapi kan kewenangan bukan di tingkat kecamatan tapi di kabupaten,” pungkasnya. (Aha)

BERITA REKOMENDASI