Mahasiswa Ini Kumpul di UGM Belajar ‘Ngelapak’, Ada Apa Dengan 2035?

Editor: KRjogja/Gus

SLEMAN, KRJOGJA.com – Puluhan mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi dan masyarakat umum berkumpul di auditorium Gedung Mandiri Fisipol UGM Jumat (29/3/2019). Bersama salah satu marketplace nasional Bukalapak, para mahasiswa diajak membuat produk untuk nantinya dipasarkan melalui jejaring digital. 

Muhammad Fikri, Head of Community Management Bukalapak mengungkap pihaknya memiliki konsern untuk membantu pemerintah menciptakan banyak lapangan pekerjaan. Terlebih, 2035 mendatang Indonesia akan menghadapi kondisi bonus demografi. 

“Di sini kami ingin punya peran juga membantu pemerintah memberikan peluang kerja bagi masyarakat terutama menghadapi bonus demografi. Ketika banyak usia 30-45 tahun dan tidak banyak lapangan pekerjaan maka kriminalitas yang terjadi. Nah ketika ada lapangan pekerjaan misalnya dengan memulai wirausaha dan kemudian memasarkan produk melalui Bukalapak, harapan kami bisa membantu secara signifikan,” ungkapnya. 

Fikri mengungkap saat ini Bukalapak memiliki lebih dari 50 juta pengguna yang tersebar di 100 kota Indonesia. Potensi besar masih dimiliki yang bisa dimanfaatkan secara maksimal oleh masyarakat yang ingin masuk berjualan. 

“Kami punya 50 juta pengguna yang jumlahnya terus bertambah kedepan di 100 kota Indonesia. Di sini kami melihat potensi besar dari generasi milenial, untuk bisa membuka peluanf usaha melalui pemanfaatan digital marketing. Di UGM ini kami ingin ajak teman-teman belajar ngelapak, buat produk dan dipasarkan secara maksimal,” tandasnya. 

Suasana belajar ngelapak di Fisipol UGM (Harminanto) 

Tidak tanggung-tanggung untuk membantu mahasiswa berkembang, Bukalapak siap melakukan pembinaan lebih lanjut melalui Komunitas Bukalapak yang ada berbagai daerah Indonesia. “Tim kami siap mendampingi dan membantu teman-teman mahasiswa yang ingin membuat produk atau berjualan online dengan maksimal,” pungkasnya. 

Program Bukalapak yang diberi tajuk Belajar Ngelapak Bersama Komunitas (BNBK) sendiri akan bergerak di berbagai universitas di Indonesia mulai Universitas Negeri Aceh hingga Universitas Cendrawasih Papua dengan UGM sebagai titik awal. Pemilihan Yogyakarta sebagai lokasi kick off lantaran komunitas di Yogyakarta jadi salah satu yang paling aktif untuk bergerak dari seluruh Indonesia. (Fxh)

 

BERITA REKOMENDASI