Mahasiswa UGM Tuntut Pengesahan Peraturan Soal Kekerasan Seksual

Editor: Ivan Aditya

SLEMAN, KRJOGJA.com – Puluhan mahasiswa UGM melakukan aksi unjukrasa disela acara Lustrum XIV di Grha Sabha Pramana, Kamis (19/12/2019). Mahasiswa menuntut rektorat segera mengesahkan peraturan terkait pencegahan dan penanganan pelecehan seksual di kampus usai meletusknya kasus ‘Agni’ beberapa waktu lalu.

Mahasiswa mengenakan batik, berdandan rapi sembari berorasi membentangkan spanduk. Mereka juga membawa karangan bunga ucapan yang bernada minor ‘Selamat dan Sukses Atas Kinerja UGM, Semoga Tetap Teguh Dalam Mengingkari Janji Pengesahan Peraturan Pencegahan dan Penanganan Kekerasan Seksual’.

Baca juga :

Jusuf Kalla Terima Hamengku Buwono IX Award dari UGM

Kevin, salah satu wakil mahasiswa menyebut mahasiswa menagih janji aturan yang sedianya disahkan pada 13 Desember 2019 namun hingga saat ini belum juga dilaksanakan. “Kami kecewa, sebelumnya rektor berjanji disahkan 13 Desember tapi sampai saat ini belum. Kami tak ingin ada Agni selanjutnya di kemudian hari,” ungkapnya.

Aksi unjukrasa yang pada awalnya dilakukan di lantai 2 Grha Sabha Pramana lantas berpindah ke depan ruangan lantai 1. Di dalam rektor dan sivitas akademika UGM sedang menggelar makan siang bersama Jusuf Kalla yang mendapatkan anugerah HB IX Award 2019.

Aksi saling dorong antara mahasiswa dengan Petugas Keamanan Kampus UGM sempat terjadi. Namun keadaan bisa berangsur tenang saat perwakilan mahasiswa diajak bertemu rektor Panut Mulyono di salah satu ruangan.

Panut Mulyono mengungkap saat ini bola berada di Senat Akademik setelah rektorat dan tim penyusun peraturan selesai merumuskan peraturan. Saat ini pihaknya sedang menunggu Senat Akademik untuk melakukan rapat pleno dengan agenda menyetujui adanya peraturan rektor pencegahan dan penanganan pelecehan seksual tersebut.

“Kami sudah kirimkan draftnya sejak 25 November 2019 lalu ke Senat Akademik dan tadi, saya mendapat informasi akan ada rapat pleno khusus pada 26 Desember 2019 karena sebenarnya tidak ada pleno di bulan Desember. Kami dari rektorat menunggu, karena tanpa persetujuan dari Senat Akademik, rektor tidak bisa mengesahkan peraturan tersebut. Kalau sudah, mungkin sore hari setelah pleno saya bisa tanda tangan kalau tidak ada yang harus dirapikan,” ungkap Panut.

Panut juga sempat menyampaikan kekecewaan pada mahasiswa yang tak menunjukkan ke-UGM-an dengan menghina namanya saat aksi unjukrasa dilakukan. Panut pun berharap hal tersebut tak dilakukan karena tak menunjukkan ciri khas mahasiswa UGM yang memegang teguh kebudayaan termasuk di dalamnya, sopan santun.

“Tapi, anda itu UGM jati dirinya kerakyatan, pusat kebudayaan juga. Saya ingin ingatkan budaya kita adalah kebiasaan yang jadi perilaku, sopan santun, tak menghina dan tahu mana baik dan buruknya. Saya kecewa dengan anda menghina nama saya, Panut Kudu Manut, ini bertolakbelakang dengan ke-UGM-an. Namun saya tak marah atau dengki pada mahasiswa tapi sebagai guru saya wajib mengingatkan anda anak UGM,” pungkas Panut. (Fxh)

UGM

BERITA REKOMENDASI