Mahendra, Menggambar untuk Menghidupi Keluarga

PERLAHAN namun pasti sketsa wajah Maudy Ayunda yang sedang tersenyum manis tergambar sempurna. Ditengah hiruk pikuk keramaian, ia menarik perhatian orang untuk menghampirinya, melihat lihai tangannya menggoreskan garis menjadi wujud rupa.

Mahendra Satria Wibawa (34), ayah yang menghidupi keluarganya dengan hasil seni gambar. Mempunyai dua produk gambar, ia membaginya menjadi produk craft yang berisi jasa lukis potret, lukis kaos, dan lukis sepatu, sedangkan produk idealis merupakan karya diluar pesanan.

Harga yang ditawarkan dari pemasaran online melalui instagram terhadap kedua produk itu berbeda. Bahkan ia membuat dua instagram untuk memisahkan pemasaran.

Produk craft dihargai 350 rupiah/cm. Sedangkan untuk produk idealis, ia menentukan harga sesuai dengan dalamnya emosional yang masuk dalam gambar. Karenanya, tak jarang gambar kecil mampu meraup angka puluhan juta rupiah.

Membuka Lembaran Dunia Gambar
Menjadi lulusan ISI pada tahun 2004, ia tak pernah menyangka akan menjadikan gambar sebagai dunianya. "Waktu itu, bahkan menggambar bulatan dengan bayangan saja saya kaget. Kok bisa ya sampai seperti itu, realistis sekali," ujarnya menceritakan pengalaman pertama masuk kuliah.
Tak ingin belajar ilmu eksak, ditambah hobi menggambar sedari kecil, membulatkan tekadnya untuk mengambil jurusan seni rupa murni.

Pertemuan dengan pensil dan kertas yang baik, serta pengajaran teknik dasar yang lengkap membuatnya langsung jatuh hati pada menggambar.

Saat ini, tak ada hari tanpa membuat sketsa. Menggunakan media bolpoin dan pensil, ia menilai kedua media itu lebih mudah dibawa dan dapat diaplikasikan dimana saja dan kapan saja.

Beda Tangan Beda Hasil

Setiap orang memiliki karakter masing-masing. Goresan tangannya dengan seniman lain tentu akan berbeda. Ia lebih cenderung menggunakan teknik pewarnaan lembut, tanpa penekanan dan hanya seperti arsiran tipis-tipis.

Menurutnya, bolpoin jika dalam penggunaannya dibuat miring akan cenderung memiliki garis tipis dibandingkan dengan yang dibuat lurus. Semakin tinggi derajat kemiringannya, maka semakin tipis hasil arsirannya. 

Setiap seniman gambar tak dapat mengikuti seniman gambar lainnya, meskipun media yang mereka gunakan sama. Dikarenakan setiap seniman gambar punya ciri khas dan pengembangan masing-masing.

Pasang Surut Menggambar

Salah coret ketika menggambar menggunakan bolpoin merupakan resiko. Ketika hal itu terjadi pada gambar imajinatif, maka tak akan terjadi masalah. Dikarenakan gambar imajinatif memiliki sistem respon, ketika coretan terjadi maka ada respon balik dari coretan tersebut.

Jika kita mengamati gambar-gambar imajinatif yang menggunakan bolpoin, tentu banyak yang keluar dari garisnya. Namun, susah dalam mengontrol ide baru yang tak pernah habis untuk memberi obyek baru, bahkan saat tanda tangan telah terbubuhkan.

"Kalau gambar potret maka harus rapi, detail, dan presisi sesuai  wajah yang digambar. Sehingga biasanya ketika menggambar detail akan cenderung berhati-hati," ungkapnya. Namun dibalik sikap hati-hati gambar potret lebih enak karena tak perlu berpikir untuk menambah ide baru.

Ketika menggambar dengan bolpoin dan dalam waktu yang sangat diburu, resiko lain yang sering terjadi adalah munculnya bercak titik-titik. Kesalahan dalam  mengatur irama ketika sedang menggoreskan, membuat tinta menjadi menumpuk diujung bolpoin.

Selain bolpoin, pensil memiliki tingkat kerawanan lain yang tinggi. Pensil jika tergores akan dengan mudah kotor. Hal itu akan bahaya ketika ada anak atau teman yang tidak tahu seni dan kemudian menggores kanvas sehingga arang pensilnya terkena sekitar.

Cinta dan Nikmat untuk Seni Gambar

Hal terpenting dari menggambar adalah mencintainya. "Saya menggambar itu merasakan kenikmatan. Seperti ada candu atau bisa dibilang seperti orang yang bisa berhenti merokok," ungkapnya. Rasa itulah yang menolongnya dari keadaan bosan dalam menggambar.

Menggunakan teknik meninggalkam PR, membuat ia tetap menyelesaikan gambar hingga akhir. Misalnya saja ketika buah apel yang digambarnya baru selesai setengah, maka ada kewajiban dari dirinya untuk menyelesaikan buah apel itu.

Pernah mengalami menggambar hingga dalam waktu sebulan penuh, selama paham dengan apa yang digambarnya, maka proses itu akan berjalan dengan lancar. Seperti saat menggambar tikus di kanvas berukuran 140×140, ia harus tahu anatomi tikus secara mendetail.
Orang seni mempunyai idealisnya sendiri. Menjadi seniman gambar membuat ia mempunyai idealisme untuk memfasilitasi penyaluran aspirasi, kesenangan pribadi, dan wadah menghidupi keluarga. (Brigitta Adelia)

BERITA REKOMENDASI