Ma’ruf Amin Bicara Kesepakatan Pancasila dan NKRI di Forum CDI

Editor: KRjogja/Gus

SLEMAN, KRJOGJA.com – Wakil Presiden, KH Ma'ruf Amin menjadi pembicara kunci dalam forum internasional executive commite Centrist Democrat International (CDI) dengan tuan rumah Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) di Hyatt Hotel, Jumat (24/1/2020) siang. Di hadapan peserta dari berbagai negara termasuk Presiden CDI, Andres Pastrana, Wapres menceritakan alasan Indonesia tetap bersatu di tengah perbedaan. 

Ma'ruf Amin mengungkap Indonesia kini juga mewaspadai adanya hal-hal negatif yang juga dialami dunia internasional. Adanya intoleransi, berita bohong, hingga radikalisme dan terorisme menjadi perhatian pemerintah Indonesia. 

Menurut Ma'ruf kondisi tersebut bisa berkembang luas lantaran kurangnya komunikasi dan forum yang dilakukan oleh elemen masyarakat internasional. “CDI ini saya percaya mampu menjadi jembatan untuk membangun rasa saling pengertian dan inklusivitas yang mendukung kedamaian dunia,” ungkap Ma'ruf. 

Tak hanya itu dalam forum tersebut Maruf juga berbagi cerita bagaimana Indonesia dengan situasi heterogen 300 kelompok etnis bisa hidup bersatu dalam sebuah negara. Pancasila dan NKRI menurut dia merupakan rahasia utama dengan kesepakatan yang masih dijunjung bersama seluruh bangsa. 

“Kami paling heterogen di dunia namun tetap bersatu, karena kami menjaga kesepakatan yakni Pancasila dan NKRI. Dari perspektif Islam yang merupakan agama mayoritas penduduk Indonesia 88 persen, kami menjunjung tinggi apa yang disebut sebagai kesepakatan nasional yang tak boleh diciderai. Umat Islam di Indonesia tak memaksakan negara sebagai kepercayaan dalam dasar agama dan di Indonesia, semua agama punya hari libur nasional masing-masing tanpa terkecuali,” ungkapnya lagi. 

Sementara Ketua Umum PKB, Muhaimin Iskandar mengungkap dalam kegiatan selama tiga hari di Yogyakarta, CDI merumuskan banyak hal tentang isu dunia yang dirasakan partai politik terutama membangun pandangan Islam yang humanitarian dan Rahmatan Lil Alamin. “Eropa memiliki isu identitas, lantaran munculnya paham liberal yang memperkenalkan era baru pasca Kristian. Pertemuan ini membahas bagaimana gerakan politik Islam dan mengekspresikan diri secara politis,” tandasnya. (Fxh)

 

BERITA REKOMENDASI