Mbah Ngadiyan Setia Anyam Tikar Mendong di Usia Senja

Editor: KRjogja/Gus

TUBUH renta dan tua bukanlah kendala untuk mengumpulkan pundi-pundi rupiah. Semangat mencari uang masih membara dalam perempuan berusia 75 tahun ini.

Namanya Mbah Ngadiyan. Ia merupakan salah satu pengrajin tikar di Desa Bantar, Banguncipto, Sentolo, Kulon Progo. Desa ini terletak 20 kilometer ke arah barat Yogyakarta.

Mbah Ngadiyan menjadi salah satu pengrajin di Wisata Towilfiets, yaitu wisata yang mengajak pengunjungnya menikmati suasana pedesaan menggunakan sepeda Onthel. Pengunjung diajak untuk keliling desa sambil mengenal budaya, kearifan lokal, serta kehidupan sehari-hari masyarakat di Desa Bantar, salah satunya dengan mengunjungi pembuat tikar.

Menjadi pengrajin tikar adalah pekerjaan utama baginya. Namun, Mbah Ngadiyan tidak bekerja sendirian. Ia bekerja sama dengan  anak dan cucunya yang menjual ketupat. Tidak banyak uang yang dihasilkan dari menjadi pengrajin tikar. Namun, semangat untuk bekerja masih membara sampai sekarang.

Membuat tikar ini membutuhkan proses yang agak lama. Biasanya, tikar dibuat selama 1 minggu. Ukuran yang dihasilkan Mbah Ngadiyan dalam membuat tikar adalah 2 meter x 1,5 meter. Tikar dibuat dengan bahan dasar Suket Mendong (Rumput Mendong). Rumput Mendong adalah tumbuhan yang hidup di rawa berlumpur dengan cukup air. Rumput Mendong biasanya tumbuh dengan panjang lebih kurang 100 cm.

Untuk mengubahnya menjadi tikar, Rumput Mendong harus dijemur terlebih dahulu hingga kering. Sehari-hari, Mbah Ngadiyan mengambil rumput mendong di sawah selama satu jam dengan diantar oleh cucunya, Aisyah. Setelah itu, rumput harus dijemur selama kurang lebih satu hari agar benar-benar kering dan bisa dibuat menjadi tikar. Jika rumput sudah dipastikan kering, Mbah Ngadiyan langsung menganyamnya di pinggir sawah.

Tikar yang dibuat biasanya dipasarkan di Pasar Wage Kenteng dengan harga 45 ribu per buah. Selain menjual di pasar, tikar juga sering dipesan oleh para pengunjung Towilfiets yang berasal dari luar negeri. Tak jarang pula tikar dipesan untuk alas jenazah di rumah dukanya sebelum dikebumikan.

Sejak usia 15 tahun, Mbah Ngadian sudah membuat tikar untuk dijual. Ia mendapatkan ilmu membuat tikar dari orang tuanya. Sampai sekarang, ia masih menekuni pekerjaan ini . (Ayuseptiani Asari Putri)

 

 

BERITA REKOMENDASI