Mengenal Pertanian Sejak Dini, Siapkan Ketahanan Pangan Mandiri

”APA yang anak-anak ketahui tentang pertanian?” Semula para siswa SD Negeri Mustokorejo dan SD Negeri Tajem Desa Maguwoharjo Kecamatan Depok  Sleman terdiam ketika Ir Dyah Ully Parwati MP melontarkan pertanyaan tersebut. Namun ketika Dyah Ully dibantu Dr Ismiasih MSc dengan bahasa anak-anak, muncullah jawaban-jawaban yang mengagetkan. Karena dalam benak anak-anak kelas 3-4-5 tersebut pertanian adalah :  kotor, tradisional, jadul, tidak menarik,  bahkan miskin.

Jawaban yang jujur. Karena itulah yang dilihat anak-anak selama ini. Dan itulah yang menarik bagi Diah Ully sebagai ketua pelaksana kegiatan ketika mengusulkan Program Kemitraan Masyarakat (PKM) Menyiapkan Generasi Penerus Peduli Pertanian di Lingkungan SD Maguwoharjo Sleman. “Karena ini paling awal untuk membentuk dan mempengaruhi pola pikir/mindset tentang kepedulian dengan dunia pertanian yang mulai ditinggalkan generasi muda,” jelas Dyah Ully. Dan kegiatan ini dimaksudkan untuk menggugah serta mengubah mindset anak-anak pada sektor pertanian. 

Sleman sebagai salah satu wilayah di DIY, wilayahnya juga didominasi lahan pertanian subur. Bahkan sektor pertanian masih merupakan wilayah unggulan Sleman yang dikenal sebagai lumbung pangan DIY. Karena memang masih tinggi masyarakat di wilayah ini yang menggantungkan masa pecarian dari sektor pertanian. Lantas apa yang harus dilakukan bila anak-anaknya masih menilai pertanian seperti itu? 

Tidak bisa diingkari, di era modernisasi, kebanyakan masyarakat  memilih jenis pekerjaan yang memiliki prospek cerah di masa depan. “Profesi sebagai  petani dan pekebun/planters dinilai sebagai profesi yang tidak cukup menjanjikan, sehingga  jarang ada orang yang benar-benar ingin menjadi seorang petani,” ungkapnya kepada KRJOGJA.com, Minggu (21/10/2018). Akibatnya, jumlah siswa yang peduli  dunia pertanian semakin berkurang. 

Program kerja sama Instiper dan Kemenristekdikti berfungsi ganda. Karean berdasar  analisis situasi dan  identifikasi permasalahan diketahui beberapa permasalahan mitra yang perlu mendapatkan prioritas penanganan. Antara lain pola pikir  murid SD sebagai calon generasi penerus yang kurang peduli terhadap sektor pertanian, belum aktifnya siswa dalam mewujudkan sekolah yang berwawasan lingkungan hingga keinginan sekolah meningkatkan income generating dan lainnya.  

”Target luaran kegiatan antara lain perubahan pola pikir siswa SD sebagai generasi penerus agar peduli pada bidang pertanian sebesar 80 %,” ungkap Dyah Ully yang dibantu tenaga ahli Ir Pauliz Budi Hastuti MP  dan Ir Ni Made Titiaryanti, MP Selain itu, sebanyak 80% siswa SD mengenal teknologi budidaya pertanian modern  hemat energi  yaitu Vertikultur dan Hidroponik, meningkatnya income generating sekolah sebesar 20% dan meningkatnya kebersihan lingkungan sebesar 40% karena terkelolanya sampah dedaunan  sebagai pupuk organic dan lainnya.

Mengajak anak muda mengenal pertanian, bukan hal gampang. Tim PKM Instiper mencoba mencari  mencari solusi permasalahan tersebut akan dilakukan pembelajaran dunia pertanian : potensi dan perkembangannya di masa depan, alih teknologi  budidaya pertanian modern hemat energi,  pemanfaatan lahan produktif dengan budidaya berbagai tanaman sayuran dan obat-obatan dan lainnya. ”Setelah anak-anak diberi penjelasan, pandangan mereka berubah. Pertanian itu tidak selalu kotor, karena ada pertanian modern dan bersih. Seperti yang dilatihkan yaitu budaya hidroponik,” ujar Dyah Ully. (Fsy)

BERITA REKOMENDASI