Mengenal Wilayah 104, Tempat Pertempuran Taruna Akmil Lawan Belanda

WILAYAH Desa Selomartani, Kecamatan Kalasan Sleman saat ini ternyata pernah menjadi medan pertempuran gerilya pejuang melawan Belanda yang dilkenal sebagai wilayah 104. Bahkan di tempat ini menjadi markas tentara Indonesia saat terjadi agresi militer Belanda di Yogyakarta.

"Pada 1948-1949 banyak pertempuran terjadi di Selomartani, banyak yang gugur, dan berhadapan dengan pasukan Belanda. Dari sejarah yang disusun Indonesia dan Belanda, memang daerah itu disebut wilayah pertempuran 104 yakni di Jogja bagian utara. Di situlah pasukan taruna akademi militer berjuang sampai Kaliurang, Jogja, Solo. Markas mereka ada di Desa Selomartani," kata Penasihat Kehormatan Menteri Pariwisata/ Ketua Tim Perceparan Pengembangan Wisata Bahari Dwisuryo Indroyono Soesilo.

Fakta itu diungkap oleh Dwisuryo Indroyono Soesilo saat menghadiri focus group discussion yang digelar Badan Otorita Borobudur yang bertemakan Pemetaan Jalur Wisata Sejarah Perjuangan Pasukan Taruna Militer Akademi di Desa Selomartani di Kantor BOB, Yogyakarta belum lama ini. Kegiatan ini merupakan upaya BOB untuk mengembangkan wisata sejarah agar diminati wisatawan manca negara.

Baca Juga : Mengenang Sejarah Heroik Masyarakat Plataran

Direktur Utama BOB Indah Juanita mengatakan pengembangan sejarah menjadi destinasi wisata sangat penting untuk mengedukasi masyarakat mengenai perjuangan pejuang zaman dahulu untuk Kemerdekaan RI. "Ini sejarah yang cantik yang bisa dikenang denga baik. Kemasan yang baik dari sejarah ini bisa jadi destinasi wisata kenangan yang sedang bertumbuh di seluruh dunia. Ini penghargaan pada pahlawan," kata dia seusai FGD di Kantor BOB.

Ia mengungkapkan saat ini BOB giat menarik wisatawan mancanegara (wisman). Untuk menarik wisman, perlu dibuatkan destinasi khusus. Pengemasan sejarah inilah salah satu destinasi khusus tersebut. "Kami cari terus lokasi-lokasi seperti ini dan koordinasi dengan Kementerian PUPR untuk membantu mewujudkan fasilitas destinasi tersebut," terang dia.

Dwisuryo, mengungkapkan ada pengembangan integrated tourism master plan di kawasan Borobudur-Jogja-Prambanan. Dalam kaitannya dengan Prambanan, ada destinasi wisata alam seperti Tebing Breksi, Lava Banta serta wisata candi seperti Prambanan, Candi Ijo, Ratu Boko.

"Kami bikin satu lagi yaitu Medan Pertempuran Gerilya Desa Selomartani. Pada 22-24 Februari 1949 terjadilah pertempuran dengan puncaknya pada 24 Februari 1949. Sejarah ini bisa dijadikan sebuah destinasi wisata dan masuk master plan pengembangam destinasi wisata Borobudur-Jogja-Prambanan. "Mengapa? Salah satunya karena komunitasnya maju dan memelihara desa perjuangan ini. Komunitas itu yakni Historia 24249," kata dia.

FGD ini pun dilanjutkan dengan melihat jalur gerilya. Dimungkinkan ada tiga hingga empat trek dan ada tiga museum yang memberikan informasi mengenai seperti apakah markas gerilya, di mana pertempuran terjadi dan siapa yang dihadapi. "Kalau jadi, kami mau ambil pasar wisatawan yang di Prrambanan. Jadi enggak hanya di Prambanan, tetapi ada paket lain," terang dia.

Ketua Komunitas Historia 24249 Nuril Huda menyambut baik rencana pengembangan wisata sejarah ini. Selama ini orang-orang dan siswa sekolah sebatas mengunjungi Monumen Plataran. Ketika destinasi wisata sejarah dibuka dengan mengikuti jalur perjuangan dalam pertempuran Plataran, maka ada nilai

edukasi yang lebih dalam yang bisa didapat masyarakat."Kami berharap ini bisa berlanjut dengan baik untuk tumbuhkan nasionalisme. Jalurnya nanti sekitar 6 km dari Sambiroto sampai ke Plataran," kata dia. (*)

 

BERITA REKOMENDASI