Menginspirasi Mantan Napiter Lewat Ngopi ala In’am

Editor: KRjogja/Gus

SLEMAN, KRJOGJA.com – Bisnis tempat ngopi atau warung kopi kekinian semakin digandrungi masyarakat penikmat kopi, bukan hanya di kota-kota besar saja, melainkan juga kota-kota lain seperti di Yogyakarta. Warung kopi sebagai tempat nongkrong selain membawa dampak ekonomi, juga secara tidak langsung memberi manfaat sebagai tempat ngobrol bertukar pikiran dengan teman maupun komunitas.

Saperti warung Kopi Gandroeng yang dikelola oleh In’am. Tempat ini kerap dikunjungi oleh para mantan teroris/kombatan yang sudah tobat untuk sekedar sharing dan belajar meracik kopi. In’am sendiri adalah salah satu pengurus yayasan Lingkar Perdamaian, yayasan yang didirikan oleh Ali Fauzi Manzi di lamongan jawa timur bertujuan untuk mendidik anak-anak, janda, serta para istri yang suaminya masih dipenjara karena kasus terorisme.

“Warung kopi kini bukan lagi sekadar tempat makan dan minum saja, tapi sudah menjadi tempat untuk bersosialisasi,” kata In’am di warung kopi yang berlokasi di Jl. Perumnas No.234, Condongcatur, Depok, Sleman.

Pemerintah berulangkali menyampaikan tentang bahaya radikalisme, sejak kabinet indonesia maju dibentuk tidak hanya presiden namun sejumlah menteri juga turut mengutarakan hal tersebut secara terbuka kepada publik, di wilayah Kabupaten Sleman sendiri pihak Kepolisian Resort Sleman dengan menggandeng intansi terkait juga telah melakukan upaya penekanan untuk mengurangi dampak faham radikalisme yang menjadi embrio munculnya aksi terorisme salah satu bentuk upaya yang dilakukan adalah deradikalisasi. Terkait dengan upaya tersebut Polres Sleman juga melakukan pendekatan dengan Muhhamad In’am yang memiliki jaringan para Napiter dan mantan Napiter.

Paham radikalisme di Indonesia saat ini sudah mulai cukup mempengaruhi masyarakat Indonesia meskipun jumlahnya tidak banyak, namun hal demikian harus segera diantisipasi dan dicegah agar paham radikalisme tidak cepat menyebar luas ke seluruh masyarakat khususnya di Wilayah D.I. Yogyakarta.

Keberadaan yayasan Lingkar Perdamaian selain menjadi wadah bagi para mantan kombatan, juga bertujuan mereduksi radikalisme dan menumbuhkan kembali jiwa nasionalisme bagi kelompok yang sudah terpapar faham tersebut di Indonesia, yayasan yang didirikan di Desa Tenggulun, Solokuro, Lamongan oleh Ali Fauzi Manzi bersama dengan mantan teroris ini menjadi satu-satunya yayasan yang bergerak di bidang Control Flow Integrity (CFI) dan bertujuan untuk menjauhkan dari sifat-sifat destruktif termasuk pengeboman.

Melawan radikalisme tak bisa dilakukan dengan cara kekerasan, karena dengan cara tersebut hanya akan memunculkan dendam dan berpotensi menimbulkan aksi teror lainya, untuk itu Aparat Kepolisian Resort Sleman mengajak masyarakat peduli menjaga NKRI dengan cara tidak terbawa faham radikal serta saling mengingatkan apabila ada keluarga maupun kerabat yang ikut dalam kegiatan yang mengatasnamakan agama untuk menyebarkan faham radikal melalui forum ceramah, dialog dan sebagainya.

Keseriusan In’am dan efektivitas Kopi Gandroeng sebagai sarana memotivasi para bekas napiter diharapkan akan semakin banyak mantan napiter yang memilih berjihad dengan cara lain, yaitu menata kehidupannya dan keluarga serta bermanfaat bagi sesama, alih-alih melakukan aksi teror.

In’am sendiri mengartikan ngopi dengan cinta. Dia berharap siapapun yang menikmati kopi di warungnya akan melupakan kepahitan masa lalu dan merasakan cinta dalam hidupnya, seperti motto: “Barang siapa yang ngopi, kesepiannya diampuni.”

BERITA REKOMENDASI