NU Sleman Kirim Dukungan ke DWS-ACH

SLEMAN, KRJOGJA.com – Khatib Syuriah Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Sleman KH Fahmi Basya menyatakan, nahdliyin telah mendelegasikan sikap politik kepada Tim 9 yang kemudian secara terbuka memberikan dukungan kepada pasangan Danang Wicaksana Sulistya – Agus Choliq (DWS-ACH). NU sudah melakukan seleksi internal dan melabuhkan pilihan pada pasangan tersebut.

Pengasuh Pondok Pesantren Alfalahiyah Mlangi yang karib disapa Gus Fahmi ini menyebut, alasan pemilihan Agus Choliq selain dianggap santri internal NU, juga karena potensinya sebagai organisatoris yang enerjik. Menurut Gus Fahmi, nama Agus Choliq muncul dari proses seleksi internal NU yang cukup panjang.

“Agus Choliq sangat codok duet dengan DWS yang muda dan enerjik, sehingga dapat diandalkan sebagai motor penggerak perubahan di Sleman. Latar belakang DWS-ACH yang sama-sama putra Sleman ini saya rasa adalah keuntungan. Pasangan ini dapat lebih mengerti harapan dan seluk beluk wilayah dengan lebih baik,” terang Fahmi pada wartawan, Kamis (10/9/2020).

Selain itu, Gus Fahmi juga menyatakan masuknya Agus Choliq dalam kontestasi Pilkada Sleman 2020 adalah manifestasi harapan kaum nahdliyin di Sleman. Sebagai ormas yang secara kultural memiliki basis massa terbesar di Indonesia, Fahmi menyebut, NU sejauh ini kerap tidak terwakili kepentingannya.

“Sederhana saja, di Sleman ini ada 111 pondok pesantren, 80 persennya berafiliasi dengan NU. Agus Choliq kami harapkan dapat menyuarakan kepentingan kami utamanya di bidang pendidikan, pemberdayaan ekonomi dan kesehatan,” sambung dia.

Bukan sekadar santri, Agus Choliq menurut Fahmi juga diharapkan dapat menyumbangkan pengalamannya menyelamatkan usaha kecil pedesaan di saat pandemi Covid-19. Melalui BUMDES Puri Mataram dengan produk wastafel portabelnya, Agus Choliq terbukti dapat merespon krisis dengan cepat dan tepat.

Gus Fahmi menambahkan, kalangan nahdliyin mengharapkan adanya program riil yang dapat memberikan manfaat bagi lembaga pendidikan keagamaan seperti pesantren. Dia merinci, santri yang digembleng dalam ilmu agama perlu mendapat penguatan lifeskill bidang ekonomi agar dapat tetap berperan dalam pembangunan.

Peran serta santri dan pesantren dalam kegiatan-kegiatan ekonomi, meskipun tidak berorientasi pada hasil namun dirasa sangat mendesak. Pasalnya, menurut sarjana lulusan Yaman ini para santri harus disiapkan untuk menyongsong tantangan perubahan zaman.

“Tidak usah bicara skala rumah sakit, pesantren dan NU seharusnya sudah memiliki klinik untuk berperan dalam upaya penciptaan masyarakat sehat. Inilah yang kami harapkan bisa muncul dan terakomodasi,” pungkas Fahmi. (Fxh)

BERITA REKOMENDASI