Optimisme Pertumbuhan Ekonomi 2022 Perlu Sinergi dan Inovasi

Editor: Agus Sigit

SLEMAN, KRjogja.com – Bank Indonesia (BI) meyakini kondisi DIY akan semakin baik pada 2022 utamanya di bidang penanganan pandemi Covid-19 maupun perekonomian. Berkaca dari kondisi tersebut, pihaknya tetap optimis bahwa pemulihan ekonomi masih akan terus berlanjut. Melihat potensi dan risiko ekonomi yang dihadapi DIY kedepan, BI optimis ekonomi DIY akan tumbuh pada level moderat di kisaran proyeksi 4,8 hingga 5,8 persen (yoy), sedangkan inflasi diperkirakan berada pada kisaran 2,9 sampai 3,3 persen (yoy) pada 2022.

Plt. Kepala Perwakilan BI DIY Miyono mengatakan faktor utamanya adalah mobilitas manusia yang diperkirakan semakin meningkat. Beberapa event besar akan kembali diselenggarakan secara luring. Meski demikian, semua tidak boleh lengah sedikitpun dikarenakan masih banyak tantangan yang harus dihadapi dan diwaspadai ke depan antara lain pandemi Covid-19 yang belum usai dimana mutasi virus Covid-19 masih terus terjadi. Selanjutnya kondisi ekonomi global masih tidak menentu yang berpotensi mendorong imported inflation serta daya beli masyarakat perlu terus dijaga, sejalan dengan stimulus pemerintah yang mulai dikurangi pada 2022.

“Sinergi dan inovasi menjadi kunci untuk dapat bangkit dan mempercepat pemulihan ekonomi DIY berkaca pada pandemi. Berkaitan dengan itu, sebagai bagian dari ekosistem sosial-ekonomi di DIY, BI senantiasa bersinergi dan berkolaborasi dengan berbagai pihak dalam memajukan ekonomi DIY. Kami senantiasa siap mendukung hal-hal baik yang diupayakan Pemda maupun pihak lainnya maupun berkomitmen menjadi mitra strategis bagi Pemda DIY, Akademisi dan Pelaku Usaha guna berkontribusi nyata dalam memajukan ekonomi DIY,” tuturnya dalam Bincang-Bincang atau Diskusi Terbatas Informal (DTI) BI-Ikatan Sarjana Ekonomi Indonesia (ISEI) DIY-KR yang dipandu Wakil Pemimpin Redaksi SKH Kedaulatan Rakyat Ronny Sugiantoro di Sate Klatak Pak JeDe Khas Jejeran Nologaten, Selasa (30/11).

Anggota Dewan Penasihat ISEI Edy Suandi Hamid menyampaikan pertumbuhan ekonomi 2022 memang memberikan optimisme setelah terpaan berat Covid-19 selama dua tahun. Laju pertumbuhan akan di atas 2021 yang diperkirakan sekitar 3 hingga 4 persen. Namun angka 5 hingga 6 persen pun untuk pertumbuhan ekonomi 2022 akan sulit dicapai manakala gelombang ketiga Covid-19 melalui varian Omicron dan varian baru lainnya gagal dihalau. Oleh karena, situasi akhir 2021 dan awal 2022 perlu upaya memproteksi dari varian Omicron sangat menentukan kebangkitan ekonomi Indonesia pada 2022.

“Optimisme ini bisa terganggu dengan keputusan Majelis Hakim Konstitusi yang menegaskan Undang Undang (UU) Nomor 11/2020 tentang Cipta Kerja cacat secara formil dan dinyatakan inkonstitusionalitas bersyarat. Memang UU itu masih berlaku dan MK memberi waktu bagi pemerintah memperbaiki Omnibus Law ini dalam kurun waktu dua tahun agar bisa terus berlaku. Namun keputusan MK ini bisa menimbulkan keraguan para investor yang telah dan akan masuk ke Indonesia akan kepastian hukum di Indonesia sehingga bisa menyurutkan minat investor yang membuat pertumbuhan ekonomi melambat,” ungkapnya.

BERITA REKOMENDASI