‘Over Staying’, Anggaran Lapas Membengkak

SLEMAN, KRJOGJA.com – Masalah administrasi antarinstansi kerap menyebabkan 'over staying' di Lembaga Pemasyarakatan (Lapas). Hal ini menyebabkan pembengkakan anggaran terutama untuk biaya makan. Bahkan tahun 2018 pembengkakan biaya makan ini mencapai Rp 2 miliar. 

Kepala Kesatuan Pengaman Lapas Kelas IIB Sleman Erik Murdianto mengaku telah melakukan koordinasi, pertemuan hingga Focus Group Disscusion (FGD) dengan Pengadilan Negeri sampai dengan Kejaksaan untuk mengatasi 'over staying' tersebut. Eksekusi putusan hakim sering terlambat sehingga  menyebabkan efek domino. Penyampaian persuratan terkadang masih terganjal di salah satu instansi sehingga membuat over staying di Lapas Sleman naik.

Untuk mencapai 'zero over staying', lanjut Erik, harus ada berita acara eksekusi putusan hakim semua harus lengkap. "Jika tidak lengkap menyebabkan 'over staying'. Ada imbauan dari pusat terkait 'over staying' ini yang menyebabkan kerugian negara karena pembengkakan anggaran biaya makan," ungkapnya, Jumat (24/1/2020).

Erik memberi contoh, pembengkakan biaya makan ini misalnya 1 hari untuk satu narapida Rp 21.000 untuk tiga mali makan. Misal 'over staying' tiga hari tinggal dikalikan saja, sehingga hal ini menyebabkan pembengkakan uang negara. Dari KPK mensinyalir hal ini bisa berpotensi kerugian negara. Namun tahun 2020 ini, Lapas Sleman sudah berhasil mencapai 'zero over staying'.

"Sesuai peraturan, over staying maksimal 14 hari dari PN. Apabila sudah melampaui harus dikirimkan ke instansi terkait baik itu Kejaksaan, Kepolisian, Pengadilan Tinggi atau MA atau sesuai status tahanan tersebut. Tahanan atau pelaku kejahatan yang belum memiliki kekuatan hukum tetap, jika penahanan habis harus diperbaharui penetapan penahanannya," pungkas Erik.(Aha)

BERITA REKOMENDASI