Pancasila Sumber Identitas Budaya Politik

Editor: Ivan Aditya

SLEMAN, KRJOGJA.com – Diskusi menarik terjadi dalam agenda Forum Group Discussion (FDG) ‘Menemukan Sumber Identitas Budaya Politik Bangsa’ bersama MPR RI dan UGM di Ballroom Sheraton Hotel Sabtu (10/03/2018). Para ahli dari berbagai universitas berkumpul untuk membahas sumber tepat bagi budaya politik Indonesia yang dirasa tak kunjung membaik beberapa tahun terakhir.

Prof Sutaryo, salah satu pembicara dalam diakusi mengungkap Pancasila yang merupakan dasar ideologi bangsa yang tepat digunakan sebagai sumber identitas budaya politik. Namun, beberapa waktu terakhir Pancasila seperti mendapat tantangan dengan melemahnya budaya kewargaan.

“Perlu diketahui bahwa hubungan identitas budaya politik bangsa dengan Pancasila bagaikan anak dan induk, memisahkan hubungan keduanya sama saja telah menganiaya dan mendzalimi kebutuhan induk pada anak dan kebutuhan anak pada induknya. Semangat kemerdekaan dan pembangunan bangsa Indonesia telah membuktikannya, bagaimana kekuatan Pancasila sebagai ideologi bangsa, yang mampu memberikan militansi kepada masyarakat Indonesia yang berbeda rupa, suku, budaya dan agama untuk bergotong royong demi kesatuan dan persatuan bangsa,” ungkapnya.

Prof Sutaryo juga mengungkap problem kebangsaan yang belakangan ini bermunculan, mungkin menjadi sebuah alasan yang kuat untuk kembali menggali nilai-nilai kebangsaan yang bersumber pada Pancasila. “Yang perlu diperhatikan dan ditekankan adalah bagaimana rakyat atau warga negara yang di dalamnya ada individu, kelompok, golongan atau yang lain dapat berinteraksi dengan baik dalam wadah kebhinekaan. Indikasi lemahnya kebangsaan bisa dilihat dimana ditahun-tahun yang lalu, nilai-nilai keutamaan yang dikandung Pancasila tidak lagi menjadi acuan sebagian pemangku kebijakan/penyelenggara negara,” imbuhnya.

Guru besar UGM ini juga mengungkap Pancasila seolah kini hanya sekadar tercantum dalam anggaran dasar/anggaran rumah tangga. Namun, sebagian penyelenggara negara malah terjebak dalam pragmatisme dan transaksionalisme, apalagi saat-saat suhu politik yang kian panas saat ini.

“Pancasila diabaikan, akhirnya negara tidak mempunyai acuan filosofis kebangsaan dan kenegaraan. Sehingga NKRI dikepung oleh perilaku menyimpang sebagian penyelenggara negara, ideologi asing dan saling fitnah anak bangsa,” ungkapnya lagi.

Antropolog UMY Dr Zuly Qodir juga mengungkap bahwa saat ini sudah seharusnya seluruh elemen negara berusaha mengembalikan nilai Pancasila dalam segi kehidupan sehari-hari. Pasalnya, kelompok yang disebutnya sebagai ekstrimis mulai memanfaatkan melemahnya penerapan Pancasila dengan keinginan mengganti ideologi bangsa.

“Menurut saya Pancasila saat ini tercabik sana sini, karena masyarakat sulit mencari teladan negarawan yang menerapkan nilai Pancasila, kepala daerah dari barat sampai timur korupsi bagaimana rakyat bisa percaya Pancasila cocok untuk budaya politik kita. Pelembagaan lima Sila harus benar-benar dibenahi agar tidak dimanfaatkan kelompok ekstrimis untuk kemudian mencari ideologi selain Pancasila yang celakanya mengacu ke Timur Tengah yang tinggal rongsokan,” tegasnya. (Fxh)

BERITA REKOMENDASI