Pasutri Pemilik Rumah Sakit Siksa Anak Difabel

Editor: Ivan Aditya

SLEMAN, KRJOGJA.com – Pasangan suami istri (pasutri) pemilik salah satu rumah untuk anak disabilitas, menjadi tahanan Polres Sleman. Kedua warna Mlati Sleman yakni LO (49) dan istrinya berinisial IT (48) tersebut, berurusan dengan hukum karena melakukan penganiayaan.

Korban penganiayaan adalah AL (17), anak disabilitas yang sudah cukup lama mereka asuh. Kanit PPA Polres Sleman Iptu Yunanto Kukuh menjelaskan, penganiayaan terhadap AL sudah berlangsung selama enam bulan, mulai Januari hingga Juli 2021. Hasil pemeriksaan terhadap tersangka, motif penyiksaan diduga karena keduanya jengkel terhadap korban.

“Pelaku melakukan penganiayaan karena mungkin ia merasa korban susah diatur, tidak menurut oleh pengasuhnya. Dari kejengkelan itu, pelaku melakukan hal-hal yang menurut versi dia, bisa membuat korban kapok,” jelas Kukuh saat rilis di Mapolres Sleman, Selasa (05/10/2021) siang.

Setiap malam, korban diborgol di depan tiang, kemudian disiram menggunakan air panas, dipukul menggunakan tongkat dan disulut kemaluannya menggunakan api. Terbongkarnya kasus itu, bermula dari kecurigaan orangtua korban yang telah menitipkan anaknya ke RKS sejak tahun 2019 tersebut, merasa curiga karena dipersulit saat ingin menghubungi korban.

Orangtua kemudian mengunggah foto anaknya di media sosial Facebook, lalu ada salah satu mantan pegawai RKS yang berkomentar dan menyarankan agar anaknya diambil. Ibu korban, kemudian datang dari Lampung ke tempat ia menitipkan anaknya kepada kedua pelaku dan berencana untuk mengambilnya.

Setelah bertemu dengan AL, ibu korban syok karena mendapatkan cerita dari anaknya jika hampir tiap hari ia disiksa. Tanpa pikir panjang, langsung melaporkan kejadian itu ke Polres Sleman.

Setelah melakukan serangkaian penyelidikan, kasus itu dinaikkan ke tahap penyidikan dengan menetapkan LO dan istrinya sebagai tersangka. “Kami menduga ada korban lain selain AL, namun mereka tidak melapor,” ujarnya.

Kukuh menyebut, polisi bersama Dinas Sosial telah menutup RKS itu karena tidak layak dan tidak memiliki izin. Sementara untuk sekitar 17 anak asuh yang lain dititipkan ke Magelang. Dari tangan kedua pelaku, polisi menyita tongkat bambu yang digunakan untuk memukul korban, borgol, gelas yang digunakan untuk menyiram air panas ke tubuh korban dan tang sebagai barang bukti.

“Keduanya kami jerat Pasal 80 UU No 17 Tahun 2016 tentang Perlindungan Anak Junto Pasal 351 KUHP,” pungkasnya. (Ayu)

BERITA REKOMENDASI