Pegawai Bank Gadungan Kuras Uang Rp 509 Juta Milik Nasabah

Editor: Ivan Aditya

SLEMAN, KRJOGJA.com – Petugas Ditreskrimsus Polda DIY menangkap pelaku kejahatan terhadap nasabah bank. Dengan beberapa rekannya yang masih diburu, LP (20) asal Sumatera berhasil menguras Rp 509 juta dari tiga rekening milik seorang korban.

Dirreskrimsus Polda DIY AKBP Roberto Pasaribu SIK menyebut, metode kejahatan yang dilakukan pelaku adalah social engineering. “Metodenya kita kenal dengan social engineering, yaitu satu modus yang menggunakan teknik dan gaya komunikasi, sehingga korban percaya dan lakukan semua hal yg diperintahkan pelaku melalu sarana komunikasi media elektronik. Hal itu dilakukan secara acak, pelaku hanya menduga-duga calon korbannya ini punya rekening atau tidak,” ujar Pasaribu, Jumat (05/11/2021).

Dijelaskan, terungkapnya kasus itu berawal dari laporan korban dengan inisial PW. Saat mengantar berobat keluarganya di rumah sakit pada 10 September lalu, ia dihubungi oleh seseorang dengan nomor telephone +1(501) 2893989 melalui WhatsApp.

Pria dalam telepon yang mengaku sebagai customer service sebuah bank itu, menanyakan apakah korban punya rekening di BCA. Setelah korban mengiyakan, pelaku kemudian mengatakan jika saat ini ada perubahan fitur dalam aplikasi My BCA dengan ditarik biaya administrasi sebesar Rp 300.000.

Meskipun sempat ragu, dengan bujuk rayunya, korban akhirnya menuruti permintaan pelaku untuk menambah perubahan fitur dengan biaya Rp 300.000. Korban kemudian mendapatkan kode melalui SMS, berisi adanya permintaan one time password (OTP) atau kode akses untuk pasword.

Korban kemudian mentransfer ke nomor pelaku, namun selang beberapa jam kemudian, ada pemberitahuan ke SMS nomor korban, jika transaksi berhasil. Korban kaget, karena uang Rp 509 juta dalam tiga rekeningnya sudah raib, sehingga melapor ke Polda DIY.

Wadir Krismsus Polda DIY AKBP Fx Endriadi SIK menambahkan, modus pelaku ini meretas dengan cara social engineering, mengaku sebagai pegawai bank. Lalu menghubungi korban dan meminta kode aktivasi.

“Setelah mengambil alih rekening korban, oleh pelaku kemudian dipindahkan ke rekening pelaku yang sudah dipersiapkan. Mereka ini komplotan, dan berbagi peran dalam aksinya,” pungkasnya. (Ayu)

BERITA REKOMENDASI