Pemerintah Diminta Perhatikan Industri Hulu

Editor: KRjogja/Gus

SLEMAN, KRJOGJA.com – Pemerintah harus memperhatikan struktur industri yang berbasis di hulu apabila ingin mengembalikan peran industri sebagai fundasi ekonomi nasional salah satunya industri metanol. Untuk itu, diperlukan kehadiran dan peran pemerintah dalam menyediakan pasokan gas jangka panjang, harga gas yang kompetitif, insentif khusus, hingga kawasan industri terpadu.

"Industri petrokimia dengan metanol sebagai salah satu produk utamanya adalah bagian yang tak terpisahkan karena perannya sebagai pemasok bahan baku untuk berbagai sektor industri lainnya," ujar Wakil Ketua Umum Kadin Indonesia Bidang Perindustrian Johnny Darmawan usai berbicara dalam Seminar Nasional 'Mendorong Pertumbuhan Industri Kimia berbasis Metanol' yang diinsiasi Kadin Indonesia berkolaborasi dengan Badan Kejuruan Kimia Persatuan Insinyur Indonesia (BKK PII) dan Keluarga Alumni Fakultas Teknik Universitas Gadjah Mada (KATGAMA) di Universitu Club, Jumat (27/9)

Johnny menjelaskan di saat kebutuhan akan metanol semakin meningkat, Indonesia baru memiliki satu produsen yang kapasitas produksinya 660 ribu ton per tahun. Alhasil, ketergantungan impor metanol tergolong tinggi dengan nilai impor metanol mencapai USD 12 miliar atau setara Rp 174 triliun per tahun. Pasalnya, metanol merupakan senyawa intermediate yang menjadi bahan baku berbagai industri. Karena itu, dari sisi kepentingan ekonomi nasional pun pengembangan industri kimia berbasis metanol sangat urgen dan strategis.

"Pengembangan industri metanol sangat penting untuk mendukung kemandirian industri, mendukung daya saing industri nasional serta menopang pembangunan industri berkelanjutan. Di sisi ini, akan memangkas defisit neraca perdagangan yang terjadi lantaran ketergantungan tinggi pada impor," tandas Johnny.

Alasan lain yang mendasari strategisnya pengembangan industri metanol adalah karena beberapa produk turunannya, seperti biodiesel dan dimetil eter (DME) merupakan bahan bakar alternatif. Dengan demikian, impor minyak yang selama ini membebani neraca dagang RI bisa dikurangi melalui pengembangan industri metanol.

"Kondisi ini membutuhkan antisipasi dini melalui pengembangan industri metanol nasional. Tidak hanya itu. Dengan semakin tingginya permintaan global akan energi ramah lingkungan, metanol bisa menjadi sumber ekspor RI ke mancanegara," imbuh Johnny.

Pihaknya juga mengharapkan Pemerintah untuk mengembangkan industri kimia berbasis metanol antara lain dengan konsisten dan konsekuen terhadap kebijakan dan fokus pada pendalaman struktur Industri hulu petrokimia berbasis metanol.  Metanol sangat strategis, dapat bersaing di pasar domestik maupun ekspor dan berpotensi memicu pertumbuhan industri hilir lainnya yang memberikan nilai tambah lebih besar terhadap perekonomian,  " Kita juga membutuhkan adanya keberpihakan dari pemerintah dalam mendukung pengembangan Tingkat Kandungan Dalam Negeri (TKDM) dan pemanfaatan produk dalam negeri dalam memenuhi kebutuhan bahan baku industri," terang Johnny.

Sekretaris Jenderal Kementerian Perindustrian (Kemenperin) Achmad Sigit Dwiwahjono mengatakan pihaknya terus mendorong perkembangan industri hulu, diantaranya industri metanol karena membutuhkan investasi yang besar. Pihaknya akan mendukung dengan regulasi, insentif, tax holiday dengan perluas ruang lingkupnya dan prosesnya. " Kita terus mendorong investasi baru ke industri hulu, kalau hilir kita dorong ekspornya. Kita akan permudah dari perizinan dan insentif bagi pelaku usaha industri hulu," pungkasnya. (Ira)

BERITA REKOMENDASI