Pemerintah Harus Dukung Daerah Susun Rencana Umum Energi Daerah

Editor: KRjogja/Gus

SLEMAN, KRJOGJA.com – Pendiri Purnomo Yusgiantoro Center yang juga mantan menteri ESDM 2001-2009, Purnomo Yusgiantoro meminta pemerintah memberikan ruang yang lebih besar kepada pemerintah daerah menyusun Rencana Umum Energi Daerah (RUED). Hal tersebut menurut dia harus dilakukan untuk mendukung visi Indonesia Emas 2045 yang diusung pemerintah. 

RUED tersebut disampaikan Purnomo dalam seminar bertema ‘Penguatan Ketahanan Energi untuk Mendukung Ketahanan Nasional’ di Gedung Fakultas Teknologi Mineral UPN ‘Veteran’ Yogyakarta Kamis (28/11/2019). Pada tahun 2045 Purnomo mengharapkan Indonesia sudah menjadi negara industri berbasis pada nilai tambah atau value added. 

“Untuk mengejar itu diperlukan sumber daya yang tidak kecil dan tentu sudah dihadapkan dengan pengurangan energi fosil yang tidak dapat dipebaharui. Untuk mencapai penambahan nilai, dibutuhkan kehadiran dan penggunaan Energi Baru dan Terbarukan (EBT),” ungkapnya. 

Inilah mengapa menurut Purnomo perlu adanya kewenangan pemerintah daerah untuk menyusun RUED. Ini sesuai penjabaran Rencana Umum Energi Nasional (RUEN) yang diamanatkan Undang-Undang No. 30 Tahun 2007 tentang Energi.

“Pemenuhan energi di daerah tentunya akan menghadirkan ketahanan dan keamanan energi nasional. Ini penting karena berkaitan dengan kemandirian dan juga kemampuan nasional dalam merespon dinamika dari perubahan global dan regional serta nasional,” ungkapnya. 

Tidak hanya di energi minyak dan gas saja, namun nantinya ada pengembangan Migas Non Konvensional (MNK). Saat ini terlebih listrik dari batu bara masih mendominasi yakni 61 persen dengan EBT masih 12 persen. 

“Diharapkan pada 2038 pemanfaatan EBT bertambah hingga 28 persen. Ini yang diharapkan bisa menjadi pelengkap mendukung Indonesia menjadi negara industri berbasis pada nilai tambah atau value added. Terpenting jaminannya energi tersedia (availability), memberikan akses terhadap energi (accessibility), memberikan harga energi yang terjangkau (affordability), menerima jenis energi tertentu (acceptability) dan menggunakan energi secara berkelanjutan (sustainability),” ungkapnya lagi. 

Rektor UPN “Veteran” Yogyakarta Muhammad Irhas Effendi mengatakan tema yang diangkat dalam seminar menjadi penting di tengah-tengah turunnya lifting minyak. Kondisi ini menurut Irhas menghadirkan pandangan pesimistis dan optimistis perihal keberadaan energi dan sumber daya di bumi.

“Saat ini dan di masa depan, trasisi dari energi fosil ke energi terbarukan sangat penting serta perlu terus digelorakan supaya meningkatkan kesadaran mengenai pentingnya hal itu. Pemenuhan kebutuhan EBT memang membutuhkan kerjasama pemerintah pusat dan daerah di mana pemda wajib menyusun rencana umum energi daerah yang merupakan penjabaran energi umum nasional,” tandas dia. (Fxh)

 

BERITA REKOMENDASI